Kementerian Perdagangan mengalihkan fokus pasar ekspor ke kawasan nontradisional seperti Afrika dan Asia pada kuartal II/2026 guna menjaga momentum perdagangan nasional. Langkah diversifikasi ini diambil pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional di tengah tekanan geopolitik global yang terus berlangsung.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan, Ni Made Kusuma Dewi, menjelaskan bahwa konsistensi dalam perluasan pasar sangat krusial bagi ketahanan ekonomi. Strategi ini diharapkan mampu mempertahankan tren positif kinerja ekspor Indonesia dalam jangka panjang.
“Upaya ini dilakukan secara konsisten agar tren kenaikan kinerja ekspor tetap terjaga,” ujarnya Ni Made Kusuma Dewi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan.
Pemerintah juga mendorong optimalisasi perjanjian perdagangan internasional bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Terdapat tiga pilar utama yang dijalankan, meliputi pengamanan pasar domestik, perluasan pasar luar negeri, serta akselerasi melalui program khusus.
“’Dari Lokal Untuk Global’ merupakan program akselerasi ekspor yang sangat bersentuhan dengan pelaku usaha,” kata Ni Made Kusuma Dewi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan.
Implementasi program tersebut mencakup empat klaster pengembangan, yakni UMKM BISA Ekspor, Desa BISA Ekspor, Kemitraan UMKM, dan Campuspreneur. Fokus utama terletak pada penguatan kapasitas produksi dan pendampingan berkelanjutan bagi para pelaku usaha lokal agar siap bersaing di pasar global.
Data Badan Pusat Statistik yang dilansir dari Ekonomi menunjukkan ekspor Indonesia periode Januari-Maret 2026 hanya tumbuh 0,34 persen. Secara total, nilai ekspor mencapai US$66,85 miliar, naik tipis dari US$66,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun ekspor nonmigas tumbuh 0,98 persen menjadi US$63,60 miliar, sektor migas justru merosot tajam sebesar 10,58 persen. Pada Maret 2026, total ekspor tahunan tercatat turun 3,10 persen menjadi US$22,53 miliar akibat melemahnya pengiriman komoditas primer.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa penurunan signifikan terjadi pada beberapa komoditas unggulan sektor nonmigas. Penurunan terbesar dialami oleh komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah yang anjlok hingga 54,69 persen.
“Nilai ekspor Maret 2026 secara tahunan terutama didorong oleh penurunan nilai ekspor nonmigas pada beberapa komoditas,” ujar Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS.
Penurunan nilai ekspor juga terjadi pada lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) sebesar 27,02 persen. Selain itu, komoditas kakao dan olahannya (HS 18) turut mengalami penyusutan nilai sebesar 50,89 persen dibandingkan tahun sebelumnya.