Ketegangan geopolitik global memicu penyesuaian nilai komoditas perkebunan. Kementerian Perdagangan menetapkan lonjakan signifikan pada Harga Referensi biji kakao untuk periode Juni 2026, seperti diberitakan oleh Suara.
Kebijakan ini diambil setelah penutupan Selat Hormuz mengganggu jalur distribusi internasional. Pemblokiran rute maritim vital tersebut memicu efek berantai berupa kenaikan tarif logistik, premi asuransi, serta harga bahan bakar dunia.
Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Referensi biji kakao periode Juni 2026 mencapai 3.832,17 dolar AS per MT. Nilai tersebut melonjak sebesar 563,48 dolar AS atau sekitar 17,24 persen dari bulan sebelumnya.
Kenaikan ini diikuti oleh Harga Patokan Ekspor biji kakao yang meroket ke angka 3.511 dolar AS per MT. Jumlah tersebut mencatat pertumbuhan sebesar 18,53 persen.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, mengungkapkan bahwa eskalasi di Timur Tengah menjadi penyebab utama anomali harga komoditas ini.
"Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar," ujar Tommy Andana pada Sabtu (30/5/2026).
Gangguan Pasokan Global dan Dampak Industri
Selain hambatan di jalur pelayaran, kondisi sektor hulu di negara produsen ikut memperparah keadaan. Penurunan volume suplai kakao dari Nigeria menjadi faktor pendorong lain di pasar internasional.
Kombinasi kemacetan logistik dan menipisnya stok global mendasari langkah pemerintah menyelaraskan harga patokan domestik. Kebijakan ini diprediksi meningkatkan tekanan finansial bagi eksportir serta industri pengolahan hilir.
Tren penguatan harga juga merembet ke sektor kehutanan. Harga Patokan Ekspor getah pinus periode Juni 2026 kini dipatok sebesar 980 dolar AS per MT, atau naik 6,99 persen dibanding periode bulan lalu.