Kemendag Prediksi Transaksi Digital Tetap Tumbuh Meski UMKM Pindah Kanal

Kemendag Prediksi Transaksi Digital Tetap Tumbuh Meski UMKM Pindah Kanal

Kementerian Perdagangan memproyeksikan pertumbuhan transaksi digital dan perdagangan elektronik nasional tidak akan terganggu oleh fenomena migrasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari marketplace besar pada Senin (11/5/2026).

Tren kepindahan penjual dari platform seperti TikTok Shop dan Shopee tersebut dipicu oleh peningkatan biaya logistik serta potongan komisi atau take rate. Namun, dilansir dari Ekonomi, pemerintah menilai ekosistem e-commerce Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat.

"Transaksi digital nasional masih akan terus tumbuh. Pertumbuhan maupun nilai transaksi e-commerce nasional pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya terkait perpindahan atau migrasi seller dari marketplace," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan.

Iqbal menjelaskan bahwa pelaku UMKM cenderung mencari kanal penjualan yang paling memberikan efisiensi dan keuntungan maksimal bagi bisnis mereka. Kemendag pun terus memantau dinamika di lapangan agar iklim usaha tetap kondusif.

"Kemendag telah berkoordinasi dengan platform marketplace dan pemangku kepentingan terkait untuk memahami perkembangan di lapangan agar ekosistem digital tetap sehat, kompetitif, dan memberikan ruang tumbuh bagi pelaku usaha," katanya.

Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis penyedia platform dengan kemampuan para penjual untuk berkembang. Transparansi dan keadilan dalam praktik usaha menjadi fokus utama kementerian dalam membina hubungan antarpihak.

"Kami mendorong prinsip transparansi dan praktik usaha yang adil. Tujuannya agar platform tetap inovatif, sektor logistik tetap bertumbuh, dan UMKM tidak terbebani secara berlebihan," ujarnya.

Selain itu, Iqbal mendorong adanya komunikasi yang intensif antara pengelola platform dan para penjual. Hal ini bertujuan agar produk lokal tetap memiliki daya saing yang tinggi di pasar digital.

Kemendag juga menyarankan agar pelaku UMKM tidak terpaku pada satu kanal saja, melainkan mulai menerapkan strategi multichannel maupun omnichannel untuk memperluas jangkauan pasar mereka.

Berdasarkan data laporan Momentum Works dalam Ecommerce in Southeast Asia 2026, Indonesia tetap memegang posisi sebagai pasar e-commerce terbesar di kawasan Asia Tenggara. Gross Merchandise Value (GMV) nasional diperkirakan mencapai US$57,7 miliar pada 2025.

Pangsa Pasar E-commerce Indonesia 2025
PlatformPangsa Pasar (%)Estimasi GMV (Dolar AS)
Shopee54%US$31,2 miliar
TikTok Shop & Tokopedia38%US$21,9 miliar
Lazada6%US$3,5 miliar
Blibli3%US$1,7 miliar

Data tersebut menunjukkan Shopee masih memimpin pasar dengan nilai transaksi setara Rp539,7 triliun. Sementara itu, entitas gabungan TikTok Shop dan Tokopedia berada di posisi kedua dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp380 triliun.

Artikel terkait

Rekomendasi