Kementerian Perdagangan menilai produk kreatif yang memanfaatkan bahan baku lokal memiliki peluang besar untuk meraih keuntungan di pasar ekspor. Kondisi ini terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kandungan lokal yang tinggi dalam sebuah produk dinilai menjadi modal kuat untuk bersaing di ranah internasional. Seperti diberitakan oleh Suara, potensi ini menjadi angin segar bagi para pelaku usaha berorientasi ekspor.
Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Kementerian Perdagangan, Ari Satria, menjelaskan bahwa secara teori, penurunan nilai mata uang dalam negeri dapat membuat harga komoditas asal Indonesia menjadi lebih kompetitif.
"Secara teoritis kan memang dengan pelemahan rupiah seharusnya harga barang kita itu menjadi lebih bersaing," kata Ari di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Meski demikian, fluktuasi nilai tukar ini tidak serta-merta memberikan dampak instan pada sektor perdagangan luar negeri. Proses administrasi dan pengiriman ekspor membutuhkan waktu berkisar antara dua hingga tiga bulan sebelum efeknya terasa secara riil.
"Tapi pelemahan rupiah ini kan baru seminggu ini lah ya, dampaknya kan belum terlihat. Mungkin kalau teman-teman melakukan kegiatan ekspor kan mungkin dua bulan atau three bulan ke depan baru bisa terlihat dampaknya," ujarnya.
Peluang positif ini cenderung lebih dominan dirasakan oleh pengusaha yang mandiri dari segi bahan baku dalam negeri. Hal tersebut berbeda dengan industri yang masih bergantung pada pasokan impor.
Menurut Ari, ketergantungan pada komponen impor justru akan memperberat struktur pembiayaan perusahaan saat rupiah melemah. Lonjakan harga jual produk berisiko habis tergerus oleh biaya produksi yang membengkak.
"Kalau ini kan produk yang bahan bakunya 100 persen lokal. Kecuali kalau misalnya untuk produk-produk yang berbahan baku impor, ini mungkin akan sulit juga untuk meningkatkan karena kenaikan harganya akan terkompensasi dengan kenaikan harga bahan baku impor," katanya.
Sektor industri kreatif seperti kerajinan tangan dan kain tenun dianggap memiliki posisi yang paling diuntungkan. Sebagian besar proses pembuatan komoditas tersebut sudah mengandalkan material dari dalam negeri.
"Kalau ini kan 100 persen lokal ya, jadi seharusnya bisa lebih bersaing lagi ke depannya," ucap Ari.
Hingga saat ini, pihak kementerian mengonfirmasi belum ada laporan kendala atau keluhan resmi dari asosiasi maupun pelaku industri kreatif terkait dinamika kurs ini.
"Sejauh ini belum, karena ini kan baru seminggu dua minggu terakhir ini kan naiknya drastis ya, jadi kita belum melihat dampaknya secara rutin ke depan," pungkas dia.