Kemenkeu Selidiki Dugaan Permainan Harga Ekspor Komoditas ke Singapura

Kemenkeu Selidiki Dugaan Permainan Harga Ekspor Komoditas ke Singapura

Praktik manipulasi harga ekspor komoditas strategis Indonesia melalui perusahaan perantara di Singapura kini tengah diselidiki oleh pemerintah.

Dilansir dari Money, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa indikasi aktivitas under invoicing dan transfer pricing ini terdeteksi pada ekspor crude palm oil (CPO) serta batubara.

Proses penyelidikan tersebut berjalan setelah Presiden Prabowo Subianto berulang kali mengangkat isu mengenai dugaan under invoicing dalam pertemuan kabinet.

Merespons arahan tersebut, Kementerian Keuangan langsung membentuk tim khusus yang ditugaskan melacak pola transaksi ekspor yang dinilai mencurigakan.

"Jadi begitu ada seperti itu, saya langsung datang ke NSW, National Single Window yang di bawah Kementerian Keuangan," kata Purbaya dalam konferensi pers di DPR RI, Rabu (20/5/2026).

Purbaya menyatakan bahwa Kementerian Keuangan mengandalkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperkuat kerja "tim 10" yang baru dibentuk.

Tim ini mengaudit data ekspor-impor secara acak yang berfokus pada 10 perusahaan eksportir CPO beserta beberapa rekam jejak pengapalan mereka.

Berdasarkan pelacakan, ditemukan pola pengiriman komoditas dari Indonesia yang dialihkan secara administratif ke perusahaan afiliasi di Singapura sebelum menuju negara tujuan akhir seperti Amerika Serikat.

Secara fisik, kapal pengangkut bergerak langsung dari pelabuhan Indonesia menuju Amerika Serikat, namun pencatatan transaksi sengaja dilewatkan melalui Singapura terlebih dahulu.

"Kapalnya sama, volumenya sama, tapi pricenya beda," ujar Purbaya.

Pencocokan Data dan Dampak Kerugian Negara

Guna mendalami temuan tersebut, Kementerian Keuangan membandingkan data dokumen domestik dengan data impor resmi Amerika Serikat yang diperoleh dari penyedia data internasional.

Proses komparasi data belanja komoditas tersebut digarap dengan memanfaatkan sistem AI.

Hasil pencocokan menunjukkan angka nilai komoditas ketika keluar dari wilayah Indonesia menuju Singapura tercatat jauh lebih rendah daripada nilai nominal saat tiba di Amerika Serikat.

Melalui sampel yang telah diperiksa, rata-rata harga jual di negara tujuan akhir didapati melonjak hingga dua kali lipat dibanding nilai ekspor awal dari Indonesia.

Purbaya menekankan bahwa manipulasi ini berdampak langsung pada penurunan omset pendapatan negara, baik dari sektor bea keluar maupun pajak penghasilan badan.

"Di situ saya juga rugi pajak penghasilan. Jadi saya rugi banyak," tegas dia.

Kementerian Keuangan juga mengidentifikasi indikasi kesamaan pola manipulasi ini pada aktivitas ekspor komoditas batubara dengan tujuan negara India.

Langkah pendalaman terus dilakukan pemerintah untuk menghitung secara pasti total kerugian negara sekaligus memperketat sistem pengawasan lalu lintas ekspor komoditas strategis.

Artikel terkait

Rekomendasi