Sektor manufaktur nasional menunjukkan daya tahan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kementerian Perindustrian mencatat Indeks Kepercayaan Industri atau IKI pada Mei 2026 berada di level 53,56 yang menandakan posisi ekspansi.
Capaian sektor manufaktur ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Seperti dikutip dari Suara, Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menyampaikan informasi tersebut dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta.
"Nilai ini berarti masih ekspansi di atas 50, dan naik 1,81 poin dibandingkan dengan bulan IKI bulan April 2026 yang sebesar 51,75," ujar Febri dalam konferensi pers IKI Mei 2026 di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Grafik positif dari optimisme para pelaku usaha ini tidak hanya terlihat secara bulanan. Angka indeks tersebut juga menunjukkan pertumbuhan yang baik jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
"Selain itu, nilai IKI juga naik 1,45 poin dibandingkan nilai IKI Mei tahun 2025 atau tahun lalu yang sebesar 52,11," tambah Febri.
Kementerian Perindustrian menganalisis secara mendalam total 23 subsektor industri tanah air. Hasilnya, mayoritas atau sebanyak 20 subsektor berhasil mencatatkan ekspansi, sedangkan tiga subsektor lainnya masih tertahan dalam fase kontraksi.
Sebanyak 20 subsektor yang bertumbuh positif itu memegang peranan krusial bagi perekonomian nasional. Seluruh subsektor tersebut menyumbang kontribusi hingga 57,8 persen terhadap Produk Domestik Buto atau PDB industri pengolahan nonmigas pada Triwulan I 2026.
Berdasarkan laporan resmi Kemenperin, terdapat dua subsektor yang meraih nilai IKI tertinggi sekaligus menjadi motor penggerak utama pada Mei 2026. Kedua sektor tersebut adalah industri pakaian jadi serta industri kertas dan barang dari kertas.
Sementara itu, tiga subsektor yang masih mengalami kontraksi sehingga membutuhkan perhatian ekstra meliputi industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki; industri pengolahan lainnya; serta industri reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan.
Peningkatan angka indeks ini menjadi sinyal bahwa fondasi makroekonomi serta ketahanan para pelaku industri nasional tetap kokoh. Kondisi ini terjaga dengan baik meski faktor eksternal seperti konflik geopolitik dunia dan gangguan rantai pasok energi global belum mereda.
"Perlu kami sampaikan, ya, bahwa di tengah ketidakpastian global dan pelemahan nilai tukar rupiah, dengan kenaikan signifikan IKI dari 51,75 pada April menjadi 53,56 pada bulan Mei, ini menunjukkan tingkat kepercayaan pelaku industri manufaktur nasional masih sangat kuat," pungkasnya optimis.