Pemerintah menyatakan optimisme bahwa Indonesia mampu mewujudkan swasembada pangan walaupun area luas baku sawah (LBS) terus berkurang. Langkah ini ditempuh melalui strategi optimalisasi lahan produktif serta mendongkrak frekuensi masa tanam padi.
Dilansir dari Detik Finance, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menerangkan bahwa fokus peningkatan produksi pertanian ini digenjot sejak masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto pada akhir tahun 2024. Metode utamanya adalah dengan memperbanyak intensitas penanaman demi menaikkan volume panen.
Sudaryono memberikan tanggapan terkait pandangan sejumlah pihak yang menilai target swasembada pangan tidak masuk akal akibat penyusutan lahan. Menurutnya, pola pikir tersebut kurang tepat karena produktivitas lahan pertanian justru terus menunjukkan peningkatan signifikan.
"Rahasianya adalah menanam lebih banyak, maka panen lebih banyak. Misalnya ada seorang pakar di luar sana mengatakan, 'Indonesia nggak mungkin swasembada, kan LBS kan turun terus. Kenapa yang dulu lebih banyak sawahnya, sekarang berkurang, kenapa malah swasembada,' katanya," ujar Sudaryono.
Berdasarkan data terkini, luas lahan sawah di Indonesia berkurang sebesar 79.607 hektar sepanjang periode tahun 2019 hingga 2024. Angka tersebut merosot dari posisi awal 7,46 juta hektare menjadi 7,38 juta hektare. Namun, stok beras di gudang Bulog saat ini justru menyentuh rekor tertinggi sejarah yakni mencapai 5,39 juta ton.
Pemerintah kini fokus memperbanyak frekuensi tanam tahunan, terutama pada area tadah hujan yang sebelumnya pasif saat kemarau. Infrastruktur pengairan mulai diperbaiki demi memastikan pasokan air berjalan lancar sepanjang tahun.
Kementerian Pertanian mendistribusikan sekitar 70 ribu unit pompa air ke berbagai wilayah guna memitigasi dampak El Nino. Program ini dikombinasikan dengan sistem pipanisasi, perbaikan jaringan irigasi, serta pengeboran sumur air tanah.
"Untuk memastikan sawah yang tadinya nanam sekali, jadi nanam lebih dari 1 kali. Itu lahan tadah hujan. Kalau lahan rawa, itu kalau musim kemarau airnya susut, ditanami padi. Nah ini contohnya, ada pompa, jadi ada sungai, di atasnya lahan tuh nggak ada air, maka kita pompa," kata Sudaryono.
Kebijakan Sawah Abadi dan Kemudahan Sektor Tani
Upaya menekan alih fungsi lahan juga dilakukan dengan memperketat proteksi kawasan pertanian lewat regulasi sawah abadi. Pemerintah berkomitmen memastikan kawasan persawahan yang ada tidak berubah peruntukannya.
Sudaryono menambahkan bahwa sektor pertanian merupakan bidang ekonomi yang paling adaptif bagi masyarakat luas. Sektor ini dinilai tidak memerlukan penerapan teknologi yang terlampau rumit atau keahlian akademis yang spesifik.
"Intinya pertanian ini adalah satu kegiatan ekonomi yang paling simple, dan tidak membutuhkan sophisticated, sesuatu keahlian yang sulit. Semua orang bisa mengerjakan, hanya tinggal mau atau tidak. Tidak butuh keahlian khusus, keahlian kimia lah, keahlian industri, termasuk teknik, mesin, nggak perlu. Dan semua orang bisa mengerjakan," ujar Sudaryono.