Kementerian Pertanian berkomitmen menjaga stabilitas harga telur di tingkat produsen guna memastikan keberlangsungan usaha peternakan rakyat menyusul anjloknya harga komoditas tersebut. Kebijakan ini diambil untuk merespons tekanan ekonomi yang dihadapi para peternak akibat ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual di pasar.
Dilansir dari Money, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menyatakan pemerintah harus hadir untuk memastikan peternak tetap mampu berkembang. Langkah strategis akan dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor guna mengendalikan rantai pasok dan permintaan nasional.
“Arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman sangat jelas, negara harus hadir menjaga peternak rakyat agar tetap mampu berusaha dan berkembang,” ujar Agung, Sabtu (9/5/2026).
Agung menjelaskan bahwa produksi telur nasional saat ini berada dalam kondisi kuat dan telah mencapai status swasembada hingga mampu menembus pasar ekspor. Pemerintah berencana mendorong penyerapan produksi telur, termasuk dari wilayah Magetan, ke dalam berbagai program pemenuhan gizi masyarakat.
“Langkah ini penting agar harga di tingkat peternak dapat kembali bergerak lebih stabil,” kata Agung.
Selain penyerapan pasar, fokus utama pemerintah terletak pada perbaikan ekosistem distribusi dari hulu ke hilir. Agung menilai peran peternak sangat strategis sehingga perlindungan melalui regulasi tata niaga menjadi prioritas kementerian.
“Yang perlu diperkuat adalah tata niaga, distribusi, dan hilirisasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh peternak rakyat,” tutur Agung.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH, Makmun, menyoroti pentingnya diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah. Ia melihat adanya peluang besar untuk meningkatkan volume konsumsi telur di dalam negeri.
“Kami optimistis konsumsi telur nasional masih sangat potensial untuk terus ditingkatkan,” kata Makmun.
Kondisi di lapangan menunjukkan adanya disparitas harga yang signifikan, seperti yang terjadi di wilayah Magetan pada Selasa (6/5/2026). Para peternak setempat melakukan aksi protes dengan membagikan tiga ton telur gratis karena harga jual di tingkat produsen hanya menyentuh Rp 22.000 hingga Rp 22.800 per kilogram.
Angka tersebut berada jauh di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat produsen yang ditetapkan sebesar Rp 26.500 per kilogram. Perwakilan peternak, Teguh Wahyudi, mengeluhkan rendahnya serapan program dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini baru menyerap 60 persen hasil produksi lokal.
“Kalau ini tidak segera diatasi, stok akan semakin banyak dan harga bisa makin jatuh,” kata Teguh Wahyudi.