Kemnaker Tekan Pengangguran Melalui Penguatan Lulusan Siap Kerja

Kemnaker Tekan Pengangguran Melalui Penguatan Lulusan Siap Kerja

Kementerian Ketenagakerjaan mendorong perguruan tinggi untuk mencetak lulusan siap kerja sebagai solusi menghadapi kebutuhan industri yang dinamis dalam kuliah tamu di Politeknik Negeri Malang, Jawa Timur, Kamis (7/5/2026).

Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi menjelaskan bahwa ketersediaan lulusan yang sesuai dengan dunia kerja sangat krusial karena kebutuhan sektor ketenagakerjaan terus berubah secara signifikan dibandingkan dekade sebelumnya.

"Kebutuhan tenaga kerja di sektor ketenagakerjaan saat ini tidak bisa disamakan dengan 10 tahun lalu atau dengan 20-30 tahun ke depan, sehingga seberapa siap kampus menyediakan lulusan yang benar-benar siap dengan dunia kerja," kata Cris Kuntadi, Sekretaris Jenderal Kemnaker.

Lulusan yang memiliki kemampuan yang diakui oleh industri diprediksi akan lebih cepat terserap ke dalam pasar kerja dan membantu menekan angka pengangguran nasional secara otomatis.

"Kalau kemampuan lulusan dari kampus sudah diakui dia biasanya akan langsung diminta masuk ke perusahaan," ujarnya.

Pemerintah juga berupaya meningkatkan kedisiplinan perusahaan dalam melaporkan lowongan kerja agar akses informasi bagi masyarakat semakin terbuka luas.

"Kami akan mencoba wajib lapor lowongan kerja tidak hanya diperuntukkan kepada perusahaan yang menyediakan tetapi juga bagi yang tidak membuka lowongan," kata dia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per 5 Mei 2026 menunjukkan angka pengangguran di Indonesia mencapai 7,24 juta orang, turun 35 ribu orang dibandingkan Februari 2025.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di level 4,68 persen, namun lulusan vokasi masih mencatat angka pengangguran tertinggi sebesar 8,63 persen pada Januari 2026.

Direktur Politeknik Negeri Malang Ir Supriatna Adhisuwignjo menyatakan pihak kampus kini fokus pada peningkatan kemampuan teknis dan non-teknis mahasiswa melalui praktik langsung di lapangan.

"Sehingga harapannya mereka bisa langsung mengaplikasikan kemampuannya di dunia kerja," kata Ir Supriatna Adhisuwignjo, Direktur Politeknik Negeri Malang.

Langkah ini diambil untuk meminimalkan risiko adanya lulusan yang bekerja di luar bidang keilmuan yang dipelajari selama masa pendidikan.

"Kalau persoalan dinilai bisa masuk akan langsung dimanfaatkan project problem base, tetapi apabila membutuhkan aktivitas fisik bisa diselesaikan melalui magang mahasiswa atau nanti melalui tugas akhir mahasiswa," tuturnya.

Di sektor industri, Harita Nickel menjalankan Mechanic Talent Pool Program (MTPP) sejak 5 Oktober 2025 untuk memberikan pelatihan intensif kepada pemuda lokal di Pulau Obi, Halmahera Selatan.

Direktur Operasional Harita Nickel Younsel Evand Roos menekankan bahwa pelatihan ini dirancang untuk membentuk karakter dan kedisiplinan kerja peserta sesuai standar operasional.

"MTPP tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga menyiapkan peserta agar siap bekerja sesuai standar industri. Kami melihat para lulusan kini mampu berkontribusi langsung dalam operasional," ujar Younsel Evand Roos, Direktur Operasional Harita Nickel.

Program ini mendapat apresiasi dari pemerintah daerah karena dianggap efektif dalam membuka akses pekerjaan dan meningkatkan kompetensi masyarakat lokal.

"Program seperti ini penting untuk membuka akses kerja bagi masyarakat sekaligus meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan industri," jelas Daud Djubedi, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Halmahera Selatan.

Pihak perusahaan berkomitmen untuk terus mendampingi para lulusan pelatihan agar karier mereka tetap berkembang di masa depan.

"Mereka memulai sebagai junior mekanik dan akan terus mendapatkan pendampingan serta pelatihan lanjutan untuk berkembang menjadi mekanik yang lebih berpengalaman," tegas Rangga Aji Pratama, HR & GA Manager Harita Nickel.

Hingga April 2026, sebanyak 10 peserta pelatihan telah terserap sebagai tenaga kerja, termasuk Mulyono La Hasima yang kini bertugas merawat sistem kelistrikan alat berat.

"Sekarang saya terlibat langsung dalam perawatan dan perbaikan alat. Awalnya menantang, tapi ilmu dari pelatihan sangat membantu. Saya jadi lebih percaya diri dan ingin terus meningkatkan keterampilan," tutur Mulyono La Hasima, peserta MTPP.

Keberhasilan program ini membuktikan bahwa penguasaan keahlian khusus menjadi modal utama bagi tenaga kerja untuk mendapatkan peluang karir yang lebih baik.

"Skill itu penting. Kalau kita punya keahlian, kita punya lebih banyak peluang untuk bekerja dan berkembang," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi