Kenaikan BI Rate Mengancam Tren Penurunan Rasio Kredit Berisiko Perbankan

Kenaikan BI Rate Mengancam Tren Penurunan Rasio Kredit Berisiko Perbankan

Kondisi rasio kredit berisiko atau Loan at Risk (LAR) industri perbankan nasional mulai menunjukkan arah perbaikan. Namun, langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% berisiko memicu tekanan baru.

Kebijakan pengetatan moneter ini diproyeksikan dapat memperparah beban keuangan debitur. Alhasil, kemampuan bayar nasabah berpotensi terganggu sekaligus menahan laju penurunan rasio LAR yang sudah berjalan dalam beberapa bulan terakhir, seperti dilansir dari Keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tren positif pada rasio LAR industri perbankan yang melorot ke angka 8,94% pada Maret 2026. Angka tersebut memperlihatkan perbaikan konsisten dari posisi Februari 2026 yang berada di level 9,24% dan Maret 2025 yang mencapai 9,86%.

Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto memberikan pandangan bahwa lonjakan suku bunga acuan di tengah pemulihan kualitas aset perbankan berisiko mengganggu tingkat profitabilitas. Pembengkakan beban bunga bagi para debitur dinilai menjadi pemicu utama penurunan kualitas pembayaran kredit.

Apabila kondisi ekosistem kredit mengalami pemburukan yang dibarengi lonjakan LAR, industri perbankan terpaksa mengalokasikan dana yang lebih besar untuk pos cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).

"Cost of Credit akan meningkat dan berpotensi menggerus laba bersih bank. Selain itu, kenaikan BI Rate juga dapat menekan net interest margin karena cost of fund ikut meningkat," ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Selasa (2/6/2026).

Guna memitigasi risiko tersebut, Myrdal menyarankan pelaku perbankan untuk mempertebal komponen pencadangan modal. Selain itu, optimalisasi penghimpunan dana murah (CASA) serta pelaksanaan stress testing portofolio kredit secara berkala menjadi langkah penyeimbang yang krusial.

Sektor Paling Rentan Membawa Risiko

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama kelompok mikro dan kecil, disebut tetap memegang risiko tertinggi terhadap fluktuasi LAR. Tekanan serupa juga membayangi pos kredit konsumsi, mulai dari Kredit Tanpa Agunan (KTA), layanan paylater yang disokong perbankan, hingga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan sistem suku bunga mengambang.

"Segmen-segmen tersebut sangat sensitif terhadap perubahan daya beli masyarakat maupun kenaikan suku bunga," katanya.

Pergerakan rasio LAR perbankan nasional hingga penghujung tahun ini diprediksi akan berjalan stagnan atau mengalami kenaikan tipis. Kondisi ini sangat bergantung pada durasi serta kecepatan transmisi dari penyesuaian BI Rate ke dalam tingkat suku bunga kredit perbankan.

Kendati risiko membayang, sektor perbankan diprediksi tidak akan menghentikan penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor produktif tersebut. Pelaku industri cenderung menerapkan strategi flight to quality melalui pengetatan aspek underwriting serta seleksi ketat terhadap rekam jejak keuangan calon debitur.

"Bank juga akan lebih banyak menyalurkan kredit melalui skema value chain atau rantai pasok korporasi untuk menekan risiko," imbuhnya.

Strategi Mitigasi dan Kondisi Riil Emiten Perbankan

Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo memaparkan bahwa kualitas aset di internal BTN masih berada dalam koridor perbaikan. Walau demikian, bank tetap mengantisipasi potensi rambatan dampak dari kenaikan suku bunga acuan.

Hingga penutupan kuartal I 2026, rasio LAR milik BTN bertengger di angka 19,6%. Posisi ini mengalami penurunan sebesar 70 basis poin jika dikomparasikan dengan kuartal I tahun sebelumnya yang menyentuh level 20,3%.

"Kenaikan suku bunga memang dapat mempengaruhi kemampuan bayar sebagian debitur, khususnya pada segmen yang lebih sensitif terhadap perubahan cash flow," ujar Setiyo.

Langkah taktis yang ditempuh BTN mencakup penguatan early warning system, pengawasan ketat atas kualitas kredit, simulasi stress testing, hingga penajaman strategi collection dan recovery yang menyasar segmen spesifik. Ekspansi pembiayaan pun dilakukan secara selektif pada core bisnis di ekosistem perumahan.

"Pendekatannya akan lebih prudent, berbasis risk appetite, kualitas borrower, kemampuan bayar, dan prospek bisnis," katanya.

Pada kesempatan terpisah, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) ikut membukukan tren positif dalam pengelolaan kualitas kredit mereka. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan rasio LAR perseroan mampu ditekan ke angka 5,1% pada kuartal I 2026 dari posisi 6% pada tahun lalu.

Sementara itu, tingkat kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) milik BCA masih bertahan pada level aman di angka 1,8%.

"BCA terus melakukan monitoring terhadap perubahan geopolitik dan ekonomi makro yang dapat berdampak pada peningkatan risiko kredit," ujar Hera.

Manajemen BCA menerapkan pembatasan konsentrasi pembiayaan, evaluasi berkala portofolio, serta menjaga kecukupan rasio pencadangan. Per kuartal I 2026, rasio pencadangan NPL BCA berada di posisi 174,6% sedangkan pencadangan LAR tercatat sebesar 69,7%.Langkah efisiensi juga diperlihatkan oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengonfirmasi bahwa posisi rasio LAR perusahaan secara konsisten terus merosot.

Saat ini, rasio LAR CIMB Niaga secara keseluruhan berada di angka 6,8%. Apabila portofolio restrukturisasi dampak Covid-19 dikeluarkan dari perhitungan, rasio LAR inti perseroan tercatat di level 5,4%.

"Kami tidak melihat ada tambahan risiko terhadap LAR saat ini dengan melihat kualitas aset yang dimiliki perseroan. Kami juga tetap konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit," kata Lani.

Artikel terkait

Rekomendasi