Kenaikan BI Rate Menahan Perbankan Terbitkan Surat Utang

Kenaikan BI Rate Menahan Perbankan Terbitkan Surat Utang

Sejumlah perbankan nasional mulai menahan diri untuk menerbitkan surat utang baru akibat lonjakan biaya dana yang dipicu oleh kenaikan BI Rate pada Kamis (21/5/2026).

Kondisi pasar yang menantang ini diperkirakan akan menekan laju ekspansi bisnis sektor perbankan dalam jangka pendek, seperti dilansir dari Keuangan.

Analis pengamat perbankan, Myrdal menilai bahwa kebijakan peningkatan suku bunga acuan tersebut secara langsung membuat pembiayaan melalui surat utang menjadi jauh lebih mahal.

"Ekspansi bisnis juga kan sedang berat ya karena ada kenaikan suku bunga. Jadi ya kita lihat ekspansi dari sisi surat utang juga akan menurun," kata Myrdal saat dihubungi, Kamis (21/5/2026).

Menanggapi situasi tersebut, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menyatakan bahwa keputusan penerbitan obligasi ke depan akan sangat bergantung pada tingkat efisiensi biaya dana perbankan.

"Ini akan tergantung seberapa cepat COF naik. Namun, permintaan kredit juga rendah. Kami perkirakan permintaan kredit akan tetap rendah dengan kekhawatiran bunga kredit cenderung naik," ucap Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.

Langkah serupa diambil oleh PT Bank KB Indonesia Tbk yang kini lebih memprioritaskan pengelolaan likuiditas internal demi menghadapi fluktuasi suku bunga pasar.

Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie menjelaskan bahwa segmen korporasi menjadi sektor yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter ini.

"Adapun segmen wholesale adalah segmen yang relatif banyak menggunakan suku bunga acuan sebagai parameter pemberian bunga deposit maupun kredit, sehingga segmen tersebut adalah segmen yang akan paling cepat merespons pergerakan suku bunga pasar," ucap Kunardy Darma Lie, Direktur Utama KB Bank.

Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk memutuskan untuk tidak merilis surat utang sama sekali pada tahun ini berkat kondisi likuiditas internal yang masih sangat longgar.

EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Heryn mengungkapkan bahwa pertumbuhan dana murah (CASA) perseroan berhasil mencapai Rp1.089 triliun atau melonjak sebesar 11,2% secara tahunan hingga kuartal pertama tahun 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi