Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026 diprediksi bakal menekan penyaluran kredit perbankan, seperti dikutip dari Keuangan. Lonjakan biaya dana memicu industri perbankan untuk semakin berhati-hati dalam mengucurkan pembiayaan.
Secara industri, peningkatan BI Rate memang membuka peluang bagi perbankan memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari instrumen SBN dan SRBI. Namun, konsekuensinya adalah pembengkakan cost of fund karena perbankan harus menaikkan bunga simpanan demi menjaga likuiditas.
Kepala Pusat Makroekonomi INDEF, M Rizal Taufikurahman, menilai tekanan ini akan membuat penyaluran kredit menjadi lebih selektif. Menurutnya, bank dengan basis dana murah atau CASA yang kuat akan lebih bertahan, sedangkan bank kecil berpotensi menghadapi tekanan margin besar.
"Transmisi kenaikan suku bunga biasanya lebih cepat ke deposito dibanding kredit," ujarnya.
Pertumbuhan bunga kredit cenderung merangkak naik secara bertahap, khususnya untuk kredit baru dan refinancing. Hal ini terjadi karena perbankan tetap memperhitungkan risiko perlambatan ekonomi serta kapasitas bayar para debitur.
Situasi tersebut membuat sektor kredit yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga berpotensi melambat. Beberapa sektor tersebut di antaranya adalah properti, otomotif, dan konsumsi.
Perbankan diperkirakan mengalihkan fokus pada sektor produktif dengan risiko rendah, termasuk pembiayaan proyek strategis nasional. Sektor prioritas seperti pangan, energi, dan hilirisasi yang menjadi motor utama bank BUMN juga akan menjadi fokus.
Pandangan serupa disampaikan oleh Head of Research LPPI Trioksa Siahaan yang menyebut kenaikan BI Rate memicu pembengkakan biaya dana dan mendorong kenaikan bunga kredit. Dampak akhirnya adalah perlambatan pertumbuhan kredit yang berpotensi menyentuh level single digit jika tekanan berlanjut.
Proyeksi Pertumbuhan dan Risiko NPL
Dampak dari sisi pendanaan dinilai berbeda oleh Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto. Peningkatan suku bunga acuan ini justru dapat memperkokoh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) karena masyarakat lebih memilih menyimpan dana di bank.
Meski DPK berpotensi tumbuh hingga 14,2%, pertumbuhan kredit diproyeksikan melambat ke level 8,94%. Di sisi lain, risiko kualitas kredit berpeluang meningkat dengan potensi kenaikan rasio kredit bermasalah atau NPL ke kisaran 2,52%.
Berdasarkan data Bank Indonesia, penyaluran kredit per April 2026 sebenarnya masih tumbuh sebesar 9,98% secara tahunan, naik dari Maret 2026 yang tumbuh 9,49%. BI juga mencatat suku bunga kredit relatif stabil di angka 8,73% dan suku bunga deposito 1 bulan berada di posisi 4,16%.
BI Pastikan Likuiditas Tetap Longgar
Walaupun BI Rate mengalami kenaikan, Bank Indonesia menegaskan kondisi likuiditas perbankan saat ini masih longgar. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan pihaknya berkomitmen terus menjaga ketersediaan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui aksi pembelian SBN di pasar sekunder. Nilai pembelian instrumen keuangan tersebut telah mencapai Rp 140,57 triliun hingga posisi 19 Mei 2026.
“Likuiditas di pasar uang dan perbankan lebih dari cukup untuk mendukung penyaluran kredit,” ujarnya.
Bank Indonesia turut mendorong pelaku industri perbankan untuk meningkatkan efisiensi agar kenaikan suku bunga tidak langsung dibebankan ke bunga kredit. Selain itu, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebesar Rp 424,7 triliun telah disalurkan guna menopang fungsi intermediasi.
Strategi Perbankan Hadapi Era Suku Bunga Tinggi
Menyikapi era suku bunga tinggi ini, para pelaku industri perbankan tanah air mulai menyiapkan strategi mitigasi. BTN, misalnya, memilih fokus pada penguatan dana murah CASA serta manajemen risiko lewat pelaksanaan stress test berkala.
Di sisi lain, BRI menyatakan bakal tetap fokus pada selective growth, khususnya pada segmen UMKM dan sektor produktif dengan sokongan transaction banking. Sampai kuartal I-2026, penyaluran kredit BRI tercatat tumbuh sebesar 13,68% yoy.
Langkah yang senada juga diambil oleh KB Bank yang mengarahkan fokus pada pembiayaan wholesale dan kredit berkualitas, termasuk sektor korporasi dan SME. Mereka juga memperkuat Korean Link Business untuk memfasilitasi investor Korea di Indonesia.
Secara keseluruhan, ruang pertumbuhan bagi industri perbankan sebenarnya masih terbuka. Namun, kenaikan BI Rate ini diperkirakan memaksa industri masuk ke fase ekspansi yang lebih berhati-hati dengan mengutamakan kualitas kredit ketimbang mengejar volume pertumbuhan.