Kementerian Perdagangan melaporkan kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia pada kuartal I 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 3,96 persen secara tahunan dengan total nilai mencapai 54,98 miliar dollar AS. Lonjakan ini dipicu oleh tingginya permintaan terhadap komoditas nikel, timah, hingga aluminium dari sejumlah negara mitra dagang utama.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa secara akumulatif, total nilai ekspor nasional pada periode Januari hingga Maret 2026 mencatatkan angka 66,85 miliar dollar AS. Angka tersebut menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,34 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Money.
"Sepanjang tiga bulan pertama 2026, pertumbuhan ekspor didorong kinerja sektor industri pengolahan naik 3,96 persen (CtC) atau menjadi 54,98 miliar dollar AS dibandingkan periode Januari—Maret 2025 yang sebesar 52,89 miliar dollar AS," ujar Budi Santoso, Menteri Perdagangan pada Rabu (6/5/2026).
Data Kemendag merinci bahwa nikel dan produk turunannya (HS 75) mencatat kenaikan paling signifikan sebesar 60,60 persen. Komoditas timah (HS 80) menyusul dengan pertumbuhan 49,09 persen, sementara aluminium (HS 76) meningkat 40,97 persen, ditambah penguatan pada sektor bahan kimia organik dan anorganik.
Khusus pada bulan Maret 2026, nilai ekspor bulanan berada di angka 22,53 miliar dollar AS atau tumbuh 1,62 persen dibanding Februari 2026. Pertumbuhan pada bulan ketiga tersebut turut dipengaruhi oleh lonjakan ekspor migas sebesar 18,60 persen dan sektor nonmigas yang naik 0,75 persen.
Peningkatan ekspor nonmigas pada Maret 2026 juga didorong oleh permintaan dari pasar internasional, terutama dari Hong Kong yang melonjak 78,20 persen dan Thailand sebesar 67,08 persen. Komoditas seperti bijih logam serta logam mulia dan perhiasan menjadi produk yang paling banyak diminati di pasar luar negeri tersebut.
Di sisi lain, tren negatif terjadi pada sektor pertanian yang mengalami penurunan ekspor sebesar 32,18 persen selama kuartal pertama tahun ini. Sektor pertambangan juga mencatat penyusutan sebesar 11,17 persen, dengan penurunan terdalam dialami oleh komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah yang merosot hingga 40,15 persen.