Harga Energi Global Melonjak Picu Kenaikan Harga BBM dan Gas Industri

Harga Energi Global Melonjak Picu Kenaikan Harga BBM dan Gas Industri

Gejolak geopolitik global memicu lonjakan harga energi internasional yang berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak, LPG, hingga LNG di Indonesia pada Senin (11/5/2026). Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat menembus angka US$100,10 per barel.

Data yang dilansir dari Market menunjukkan harga minyak dunia telah meningkat sebesar 54,72% dalam tiga bulan terakhir. Situasi ini dipicu oleh ketegangan yang terus meningkat antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah.

Direktur Eksekutif RofirMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai energi telah menjadi isu strategis bagi stabilitas ekonomi dan keamanan nasional. Kenaikan harga saat ini dipengaruhi oleh hambatan distribusi pada jalur perdagangan internasional yang krusial.

“Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua; pertama kebutuhan pangan dan kedua energi,” ujar Komaidi, Direktur Eksekutif RofirMiner Institute.

Komaidi menambahkan bahwa faktor non-fundamental seperti risiko penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga komoditas melambung melampaui nilai fundamentalnya. Hal ini secara otomatis menarik harga LPG dan LNG karena keterkaitannya dengan indeks minyak mentah.

“Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya,” kata Komaidi, Direktur Eksekutif RofirMiner Institute.

Peningkatan ini berdampak langsung pada sektor industri di dalam negeri. Harga LPG industri nonsubsidi tabung 50 kilogram melonjak dari Rp850.000 menjadi sekitar Rp1,068 juta per tabung, mengikuti kenaikan indeks CP Aramco.

“Harga LPG dan LNG diindeks-kan ke harga minyak mentah jadi dia pasti ikut naik,” ujar Komaidi, Direktur Eksekutif RofirMiner Institute.

Sektor transportasi industri juga mengalami tekanan berat setelah harga solar nonsubsidi meroket hingga 84%. Bahan bakar tersebut kini dibanderol pada kisaran Rp26.000 hingga Rp27.900 per liter dari harga sebelumnya Rp14.200 per liter.

“Faktor non-fundamental ini sulit diprediksi akan sampai kapan dan berakhirnya seperti apa,” kata Komaidi, Direktur Eksekutif RofirMiner Institute.

Kondisi serupa terjadi di kawasan Asia, di mana harga gas di Singapura mencapai US$47,54 per MMBtu untuk sektor retail. Kenaikan tajam juga terlihat pada indeks Japan Korea Marker (JKM) yang melonjak hingga 111% sepanjang tahun 2026.

“Memang harga LNG akan dikaitkan dengan harga minyak mentah. Kalau harga minyak tinggi maka harga LNG juga tinggi. Ini terjadi secara global, bukan hanya di Indonesia saja,” ujar Komaidi, Direktur Eksekutif RofirMiner Institute.

Penyesuaian harga energi nonsubsidi dipandang sebagai langkah krusial untuk menjaga ketahanan fiskal negara. Hal ini dilakukan demi memastikan keberlanjutan pasokan energi nasional dalam menghadapi volatilitas pasar spot Asia yang masih akan terus berlanjut.

Perbandingan Harga Energi Industri Mei 2026
KomoditasHarga LamaHarga Baru (Mei 2026)
LPG Industri 50 KgRp850.000Rp1.068.000
Solar Industri (per Liter)Rp14.200 - Rp14.500Rp26.000 - Rp27.900
Indonesian Crude Price (ICP)Rencana Awal TahunNaik 99% (April 2026)

Artikel terkait

Rekomendasi