Krisis bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non subsidi yang harganya melonjak tajam memicu dampak beruntun di sektor perikanan. Sebagian nelayan di kawasan Pantura Tegal kini memilih untuk tidak pergi melaut.
Seperti dilansir dari Kompas, keputusan ratusan nelayan untuk menyandarkan kapal mereka dipicu oleh harga BBM non subsidi yang melonjak hingga hampir menyentuh angka Rp30 ribu per liter. Kondisi ini membuat biaya operasional melaut tidak sebanding dengan pendapatan.
Imbas dari mogoknya para nelayan tersebut langsung berdampak pada penurunan pasokan hasil laut secara drastis. Kelangkaan pasokan ini kemudian memicu lonjakan harga sejumlah jenis ikan di pasar tradisional Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah.
Kenaikan harga yang cukup signifikan ini salah satunya terjadi pada komoditas ikan banyar. Harga ikan tersebut kini menembus Rp50 ribu per kilogram, dari yang sebelumnya biasa dijual pada kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram.
Kondisi mahalnya harga ikan di pasaran saat ini dikeluhkan oleh kelompok pedagang maupun konsumen. Akibat lonjakan harga yang terlampau tinggi tersebut, omzet pendapatan para pedagang ikan terpantau mengalami penurunan.