Kenaikan tarif tiket pesawat serta penyesuaian biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge diprediksi akan menghambat aktivitas leisure economy di Indonesia pada Jumat (15/5). Fenomena ini diperkirakan berdampak luas pada sektor hiburan, rekreasi, hingga pelaku UMKM di berbagai destinasi wisata tanah air.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa lonjakan harga tiket secara otomatis bakal memengaruhi pertimbangan konsumsi rumah tangga dalam melakukan perjalanan wisata domestik. Tekanan ini semakin diperparah dengan kondisi nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh angka Rp 17.600.
"Untuk wisata domestik antar pulau, tiket biasanya menyumbang porsi terbesar dari total biaya liburan. Jadi ketika tarif naik karena fuel surcharge, avtur mahal, dan rupiah melemah ke kisaran Rp 17.600, dampaknya langsung terasa ke keputusan konsumsi rumah tangga," ujar Yusuf kepada Industri.
Yusuf menambahkan bahwa penurunan daya beli kelas menengah dalam dua tahun terakhir memperkuat dampak negatif dari kenaikan harga transportasi udara tersebut. Akibatnya, masyarakat cenderung mengurangi frekuensi berlibur atau beralih ke destinasi yang lebih terjangkau.
"Dan karena daya beli kelas menengah memang sedang tertekan dalam dua tahun terakhir, efeknya jadi jauh lebih besar dibanding kondisi normal," katanya.
Pergeseran perilaku konsumen mulai terlihat dari kelompok kelas menengah atas yang mengurangi jadwal bepergian, sementara kelompok menengah bawah mulai beralih menggunakan transportasi darat. Yusuf menyoroti penurunan permintaan yang tajam pada segmen wisatawan pemula.
"Begitu tiket keluar dari jangkauan mereka, permintaan langsung turun cukup tajam," ujarnya.
Penurunan jumlah wisatawan ini dikhawatirkan mengganggu rantai ekonomi lokal mengingat besarnya efek pengganda dari sektor pariwisata terhadap pendapatan daerah. Wisatawan tidak hanya berkontribusi pada maskapai dan hotel, tetapi juga pada sektor kuliner dan kerajinan tangan.
"Jadi ketika satu perjalanan batal, yang kehilangan pendapatan bukan hanya maskapai, tetapi rantai ekonomi kecil di daerah wisata," katanya.
Data CORE menunjukkan sektor pariwisata menyumbang sekitar 4 persen hingga 5 persen terhadap PDB secara langsung. Namun, kontribusinya bisa mencapai belasan persen jika digabungkan dengan sektor ekonomi kreatif dan transportasi.
"Dan yang penting, sektor ini menyerap tenaga kerja besar, terutama pekerja informal dan UMKM daerah," ujar Yusuf.
Risiko lain yang mengancam adalah kemungkinan maskapai menutup rute-rute ke kota kecil akibat tingginya tekanan biaya operasional. Kondisi ini dapat memperburuk konektivitas dan memicu kenaikan harga tiket lebih lanjut karena minimnya kompetisi.
"Kalau itu terjadi, konektivitas makin buruk dan harga tiket sulit turun karena kompetisi berkurang. Ini bisa menciptakan lingkaran negatif untuk sektor pariwisata," katanya.
Persaingan regional juga menjadi tantangan berat bagi Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Meskipun rupiah melemah, mahalnya biaya konektivitas domestik membuat Indonesia kehilangan momentum menarik wisatawan mancanegara secara maksimal.
"Ironinya, pelemahan rupiah sebenarnya seharusnya membuat Indonesia lebih murah bagi wisatawan asing. Tetapi keuntungan itu sering hilang karena konektivitas yang mahal dan pengalaman perjalanan yang belum seefisien pesaing regional," tutupnya.