Kerentanan Fundamental Ekonomi di Balik Pelemahan Rupiah

Kerentanan Fundamental Ekonomi di Balik Pelemahan Rupiah

RUPIAH yang menembus Rp 17.600 per dolar AS tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai fluktuasi nilai tukar biasa dalam dinamika pasar global.

Peristiwa ini menjadi indikator bahwa struktur fundamental ekonomi Indonesia masih menghadapi kerentanan yang cukup serius, meskipun selama bertahun-tahun publik terus disuguhi narasi optimisme pertumbuhan ekonomi, stabilitas fiskal, dan ketahanan ekonomi nasional.

Setiap kali nilai tukar rupiah melemah, penjelasan yang muncul hampir selalu berulang dengan pola yang sama: faktor global, ketegangan geopolitik, kenaikan suku bunga The Fed, penguatan dolar AS, hingga arus keluar investor asing dari negara-negara berkembang.

Narasi tersebut terus diproduksi seolah-olah persoalan utama ekonomi Indonesia selalu berasal dari luar negeri.

Kini konflik antara Iran dan United States kembali dijadikan alasan utama anjloknya rupiah hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.

Situasi geopolitik global itu seakan-akan kembali menghadirkan kambing hitam eksternal untuk menjelaskan melemahnya mata uang nasional, sekaligus menutupi kenyataan bahwa fondasi ekonomi Indonesia selama ini belum benar-benar dibangun secara kokoh dan serius.

Padahal, tekanan global bukan hanya dihadapi Indonesia. Hampir seluruh negara di dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi internasional, tekanan inflasi, serta volatilitas pasar keuangan yang sama.

Namun, tidak semua negara mengalami tingkat kerentanan serupa ketika menghadapi guncangan eksternal tersebut.

Di sinilah pertanyaan yang lebih mendasar seharusnya mulai diajukan: mengapa Indonesia terlihat jauh lebih mudah terguncang setiap kali dunia mengalami gejolak?

Mengapa setiap tekanan eksternal hampir selalu cepat menjalar menjadi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, daya beli masyarakat, dan stabilitas ekonomi domestik?

Pertanyaan tersebut penting karena persoalan utama ekonomi Indonesia sesungguhnya tidak semata-mata terletak pada faktor global, melainkan pada lemahnya fondasi ekonomi domestik yang terlalu lama dibangun di atas optimisme statistik, konsumsi semu, dan stabilitas pasar keuangan, tetapi belum sepenuhnya bertumpu pada kekuatan produktivitas rakyatnya sendiri.

Fondasi Ekonomi yang Salah Bedah

Di sinilah persoalan utamanya. Banyak pengamat ekonomi Indonesia terlalu sibuk membaca angka, tetapi kurang membaca manusia.

Mereka terlalu fokus pada statistik makroekonomi, tetapi gagal melihat apakah rakyat yang menopang ekonomi nasional benar-benar kuat atau tidak.

Pertumbuhan ekonomi diumumkan naik lima persen. Neraca perdagangan disebut surplus. Rasio utang dianggap aman. Konsumsi rumah tangga masih tumbuh.

Semua indikator itu tampak menenangkan di atas kertas. Namun, ekonomi tidak hidup di atas kertas. Ekonomi hidup di pasar rakyat, di warung kecil, di pabrik, di sawah, di pelabuhan, di jalanan, dan di jutaan manusia yang setiap hari bekerja untuk mempertahankan hidupnya.

Angka pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti ekonomi rakyat kuat. Statistik dapat terlihat sehat, sementara penghasilan masyarakat stagnan, biaya hidup meningkat, pekerjaan informal membesar, dan daya beli perlahan melemah.

Inilah kesalahan besar cara berpikir ekonomi Indonesia selama ini: terlalu percaya bahwa pertumbuhan ekonomi otomatis mencerminkan kekuatan ekonomi rakyat.

Padahal, Indonesia adalah negara yang sangat bergantung pada kekuatan rakyat pekerja. Mayoritas rumah tangga hidup dari penghasilan kerja, sektor informal, UMKM, perdagangan kecil, pertanian, jasa, dan berbagai aktivitas ekonomi rakyat lainnya.

Bahkan, sektor UMKM menyerap sebagian besar tenaga kerja nasional. Artinya, denyut ekonomi Indonesia sesungguhnya bertumpu pada rakyat produktif, bukan semata-mata pada segelintir elite ekonomi.

Namun ironisnya, negara justru sering membangun ekonomi tanpa menjadikan penciptaan rakyat produktif sebagai prioritas utama. Negara lebih sibuk menjaga pasar keuangan dibanding membangun manusia produktif.

Ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan, respons kebijakan cenderung lebih berorientasi pada stabilisasi pasar keuangan, menjaga kepercayaan investor, dan mempertahankan instrumen obligasi negara.

Sementara itu, fondasi utama kekuatan ekonomi nasional sesungguhnya terletak pada kapasitas produktivitas rakyat yang bekerja, menghasilkan, dan menggerakkan aktivitas ekonomi riil.

Kesalahan terbesar pembangunan ekonomi Indonesia adalah terlalu lama berharap ekonomi tumbuh dari konsumsi. Memang benar, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto Indonesia.

Ketika masyarakat belanja, ekonomi bergerak. Namun, pertanyaan yang jarang dijawab secara jujur adalah: dari mana kekuatan konsumsi itu berasal?

Apakah konsumsi lahir dari rakyat yang benar-benar kuat secara produktivitas? Ataukah hanya ditopang oleh subsidi, bantuan sosial, utang rumah tangga, dan kemampuan bertahan hidup yang dipaksakan?

Tidak mungkin berharap konsumsi masyarakat terus kuat jika kemampuan menghasilkan masyarakat sendiri masih lemah. Tidak mungkin berharap daya beli terus hidup jika rakyat semakin kehilangan tenaga ekonominya.

Negara terlalu sering berharap api konsumsi terus menyala, tetapi lupa mengisi kayu bakarnya.

Karena itu, setiap kali rupiah melemah, dampaknya langsung terasa kepada masyarakat: harga pangan naik, biaya produksi meningkat, bahan baku mahal, cicilan menekan, dan daya beli menurun.

Namun, jawaban yang sering diberikan hanyalah intervensi pasar, suntikan likuiditas, dan menjaga sentimen investor. Semua itu mungkin penting dalam jangka pendek, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.

Ekonomi tidak akan kuat hanya dengan mengguyur uang ke pasar keuangan. Cara seperti itu hanya menciptakan stabilitas semu. Sama seperti melempar garam ke laut, habis begitu saja tanpa membangun kekuatan produktif rakyat.

Karena fondasi ekonomi sejati tidak semata bertumpu pada instrumen keuangan negara, narasi optimisme ekonomi, maupun capaian statistik pertumbuhan.

Fondasi utama ekonomi nasional sesungguhnya terletak pada manusia yang bekerja, menghasilkan, dan menggerakkan aktivitas ekonomi riil secara berkelanjutan.

Konsep inilah yang dapat disebut sebagai rakyat produktif, yaitu kelompok masyarakat yang terlibat dalam proses produksi, distribusi, perdagangan, jasa, pertanian, industri, maupun berbagai aktivitas ekonomi lainnya sehingga menciptakan pendapatan, memperkuat daya beli, serta menopang perputaran ekonomi nasional secara nyata.

Berhenti Membangun Ekonomi untuk Segelintir Orang

Persoalan ekonomi Indonesia bukan hanya soal lemahnya produktivitas rakyat, tetapi juga mengenai bagaimana kekuatan ekonomi terlalu lama terkonsentrasi pada kelompok kecil tertentu.

Kekayaan nasional terus berputar di lingkaran elite yang sama, sementara jutaan rakyat hanya menjadi penonton pertumbuhan ekonomi.

Negara sering berbicara tentang pertumbuhan, tetapi pertumbuhan untuk siapa?

Ketika proyek besar dibangun, keuntungan lebih banyak dinikmati kelompok pemilik modal besar. Ketika pasar saham naik, yang menikmati kenaikan bukan mayoritas rakyat pekerja.

Ketika ekonomi tumbuh lima persen, tidak otomatis penghasilan rakyat bawah ikut tumbuh lima persen.

Akibatnya, ekonomi Indonesia terlihat besar, tetapi tidak merata. Ada pertumbuhan di atas, tetapi pondasi ekonomi di bawah tetap rapuh.

Kekuatan ekonomi sejati sesungguhnya lahir ketika jutaan rakyat memiliki kemampuan menghasilkan secara luas dan merata. Ketika masyarakat bekerja dan memperoleh penghasilan, aktivitas ekonomi akan tumbuh secara alami.

Pasar rakyat menjadi hidup, usaha-usaha kecil bergerak, konsumsi masyarakat berkembang lebih sehat, perputaran uang terjadi secara organik di tengah masyarakat, dan pada akhirnya struktur ekonomi nasional menjadi lebih kuat serta memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap berbagai tekanan krisis.

Sebaliknya, jika ekonomi hanya dikuasai segelintir kelompok besar, maka negara menjadi rentan. Ketika kelompok besar terguncang, ekonomi ikut goyah.

Ketika modal asing keluar, rupiah langsung terpukul. Ketika pasar global berubah, rakyat bawah yang pertama kali menanggung akibatnya.

Indonesia terlalu lama membangun ekonomi dengan pendekatan dari atas ke bawah, yaitu lebih berfokus pada menjaga kepercayaan investor, mempertahankan citra pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas pasar keuangan, dan mengejar capaian statistik makroekonomi.

Namun di saat yang sama, negara justru kurang serius membangun fondasi paling mendasar dalam perekonomian nasional, yakni rakyat produktif sebagai penggerak utama ekonomi riil.

Padahal, mayoritas rakyat Indonesia menggantungkan keberlangsungan hidupnya pada lapangan pekerjaan dan aktivitas ekonomi sehari-hari.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi pembangunan ekonomi nasional semestinya diarahkan pada penciptaan rakyat produktif secara luas dan massal.

Bukan sekadar menghadirkan bantuan sosial atau stimulus jangka pendek, melainkan membangun manusia-manusia yang bekerja, menghasilkan, memiliki penghasilan yang berkelanjutan, serta mampu menggerakkan perputaran ekonomi nasional secara nyata.

Di sisi lain, Indonesia juga terlihat terlalu cepat ingin melompat menjadi negara industri maju seperti Japan, Korea Selatan, maupun negara-negara di Eropa, sementara fondasi ketenagakerjaan massalnya sendiri belum terbentuk secara kuat dan merata.

Negara mulai berbicara mengenai kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan industri masa depan, tetapi pada saat yang sama jutaan rakyat masih menghadapi kesulitan memperoleh pekerjaan produktif yang stabil dan layak.

Padahal, negara maju pun tidak lahir dari langit teknologi tinggi. Mereka dibangun pertama kali dari rakyat pekerja yang terserap secara massal ke dalam aktivitas ekonomi produktif.

Setelah fondasi itu kuat, barulah kualitas tenaga kerja ditingkatkan menuju produktivitas yang lebih tinggi.

Karena itu, strategi besar Indonesia seharusnya sederhana, tetapi mendasar: serap dulu rakyat ke dunia kerja secara massal. Hidupkan ekonomi mereka. Biarkan rakyat menghasilkan dan memutar ekonomi nasional secara alami.

Setelah fondasi ketenagakerjaan dan produktivitas masyarakat terbentuk secara kuat, barulah negara dapat secara bertahap meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui penguatan keterampilan, penguasaan teknologi, peningkatan efisiensi kerja, serta pengembangan produktivitas modern yang berdaya saing tinggi.

Proses tersebut seharusnya dibangun secara bertahap dan berurutan, bukan justru dibalik dengan memaksakan lompatan menuju ekonomi maju ketika basis rakyat produktifnya sendiri belum terbentuk secara kokoh.

Terlebih lagi, sektor-sektor ekonomi riil di Indonesia sesungguhnya masih memiliki potensi ekonomi yang besar dan tetap dibutuhkan dalam sistem ekonomi global, baik di bidang pertanian, perikanan, perdagangan rakyat, jasa, maupun berbagai sektor padat karya lainnya yang selama ini justru menjadi penopang utama kehidupan ekonomi masyarakat.

Karena pada hakikatnya, kemajuan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi atau tingginya pertumbuhan ekonomi, melainkan oleh seberapa kuat negara tersebut mampu membangun rakyat produktif sebagai fondasi utama kekuatan ekonominya.

Rakyat Produktif

Rupiah yang melemah hari ini sebenarnya bukan sekadar persoalan kurs mata uang atau fluktuasi pasar keuangan global. Peristiwa ini harus dibaca sebagai alarm besar bahwa Indonesia perlu mengubah cara berpikir ekonominya secara mendasar.

Selama ini pembangunan ekonomi terlalu berorientasi pada stabilitas angka makro, pertumbuhan statistik, konsumsi rumah tangga, dan upaya menjaga sentimen pasar.

Sementara pembangunan manusia produktif sebagai fondasi ekonomi justru belum menjadi prioritas utama.

Indonesia tidak bisa terus-menerus menggantungkan kekuatan ekonominya pada konsumsi semu, intervensi jangka pendek, suntikan likuiditas, maupun pertumbuhan ekonomi yang lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu.

Karena pertumbuhan yang tidak bertumpu pada kekuatan produktivitas rakyat pada akhirnya hanya akan melahirkan ekonomi yang terlihat besar di permukaan, tetapi rapuh ketika menghadapi tekanan global.

Kekuatan ekonomi sejati tidak lahir dari pidato optimisme, bukan pula semata-mata dari stabilitas pasar keuangan atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi.

Mata uang yang kuat pada akhirnya lahir dari kuatnya fondasi ekonomi domestik, dan fondasi ekonomi domestik hanya dapat dibangun melalui rakyat yang produktif, bekerja, menghasilkan, dan terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi riil secara luas dan merata.

Di sinilah letak persoalan mendasar Indonesia selama ini. Negara terlalu lama membangun ekonomi dari atas ke bawah, yaitu dengan menjaga investor, menjaga pasar, dan menjaga indikator statistik, tetapi belum sepenuhnya membangun kekuatan ekonomi dari bawah melalui penciptaan rakyat produktif secara massal.

Padahal, mayoritas rakyat Indonesia hidup dari bekerja, berdagang, bertani, melaut, memproduksi, dan menggerakkan sektor ekonomi riil setiap hari.

Artinya, denyut ekonomi nasional sesungguhnya bertumpu pada rakyat pekerja, bukan semata-mata pada pasar modal atau segelintir elite ekonomi.

Ketika rakyat memiliki pekerjaan dan penghasilan yang stabil, maka pasar akan hidup dengan sendirinya, usaha kecil akan bergerak, daya beli tumbuh lebih sehat, dan perputaran ekonomi nasional akan terbentuk secara alami tanpa harus terlalu bergantung pada stimulus buatan.

Karena itu, strategi besar pembangunan ekonomi Indonesia seharusnya dimulai dari bagaimana menciptakan rakyat produktif secara luas.

Serap rakyat ke dalam aktivitas ekonomi. Bangun lapangan pekerjaan yang nyata. Hidupkan sektor ekonomi riil. Perkuat kemampuan masyarakat untuk menghasilkan.

Setelah fondasi itu terbentuk, barulah negara secara bertahap meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui pendidikan, teknologi, keterampilan, efisiensi, dan produktivitas modern.

Proses tersebut tidak dapat dibalik. Negara tidak bisa bermimpi menjadi ekonomi maju berbasis teknologi tinggi, sementara fondasi rakyat produktifnya sendiri belum terbentuk secara kokoh.

Sebab kemajuan ekonomi yang tidak ditopang oleh kekuatan produktivitas rakyat hanya akan menciptakan pertumbuhan yang timpang dan rentan terhadap krisis.

Pada akhirnya, masa depan ekonomi Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa sering pemerintah berbicara tentang pertumbuhan, investasi, atau optimisme pasar.

Masa depan ekonomi Indonesia akan ditentukan oleh seberapa serius negara membangun manusia-manusia produktif yang mampu bekerja, menghasilkan, menciptakan nilai ekonomi, dan menjadi fondasi utama kekuatan nasional.

Karena negara yang kuat bukanlah negara yang sekadar memiliki angka pertumbuhan tinggi, melainkan negara yang berhasil menjadikan rakyat produktif sebagai pusat dan penggerak utama pembangunan ekonominya.

Artikel terkait

Rekomendasi