Peluncuran global koleksi jam tangan saku "Royal Pop" hasil kolaborasi Swatch dan Audemars Piguet pada Sabtu, 16 Mei 2026, memicu kerumunan masif dan kericuhan yang memaksa penutupan gerai di berbagai kota besar Amerika Serikat hingga Inggris akibat masalah keamanan publik.
Ratusan pembeli dan calo memadati pusat perbelanjaan sejak dini hari demi mendapatkan jam tangan seharga sekitar 400 dolar AS tersebut, yang dilaporkan langsung dijual kembali secara daring dengan harga mencapai 1.000 hingga 4.000 dolar AS.
Di Roosevelt Field Mall, Nassau County, kepolisian setempat mengerahkan belasan personel sekitar pukul 01.40 waktu setempat dan menggunakan semprotan bela diri setelah ratusan massa mulai saling dorong dan terlibat perkelahian hingga berujung pada beberapa penangkapan.
"Itu adalah kerumunan besar, tetapi tidak ada yang benar-benar terjadi, sejauh menyangkut tindak pidana berat, sepanjang yang saya ketahui," kata juru bicara Kepolisian Nassau County kepada Newsday.
Pihak kepolisian Nassau tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai durasi pengamanan maupun jumlah pasti warga yang ditahan dalam insiden tersebut.
"Banyak orang saling mendorong, ada perkelahian, ada orang yang ditangkap dan ada semprotan merica yang digunakan oleh polisi," ujar Chris Salih, seorang influencer jam tangan melalui video Instagram miliknya.
Salih menambahkan bahwa terdapat sekitar 500 orang yang berkumpul membentuk kerumunan padat di lokasi tersebut sebelum toko akhirnya ditutup.
Situasi serupa terjadi di Los Angeles, di mana sekitar 200 orang bersiap menginap di luar mall Topanga sebelum akhirnya dibubarkan oleh pihak Kepolisian Los Angeles (LAPD) karena stok toko yang sangat terbatas.
"Saya mungkin satu-satunya orang yang ingin memakainya di sini," kata Aidan Chin, warga Northridge kepada ABC 7.
Chin menyatakan bahwa sebagian besar orang dalam antrean tersebut berniat menjual kembali jam tangan itu seharga 1.200 dolar AS.
"Untuk harga yang tepat saya bersedia berpisah dengannya," kata William Enenstein, warga Woodland Hills kepada ABC 7.
Enenstein mengaku rela melepaskan jam tangan tersebut apabila berhasil mendapatkan keuntungan hingga tiga kali lipat dari nilai ritelnya.
Kondisi ini memaksa manajemen Swatch menutup belasan gerai utama mereka secara mendadak di New York City, Houston, Orlando, Atlanta, Chicago, hingga beberapa kota di Inggris seperti London, Liverpool, Manchester, Birmingham, Sheffield, Glasgow, dan Cardiff.
"Peluncuran Bioceramic Royal Pop Collection hari ini mengalami permintaan yang sangat tinggi. Beberapa toko kami harus ditutup sesuai dengan staf keamanan kami dan otoritas setempat untuk memastikan lingkungan yang aman bagi semua orang," tulis pernyataan resmi Swatch di media sosial.
Perusahaan jam tangan asal Swiss tersebut menegaskan bahwa langkah penutupan diambil demi keselamatan konsumen dan seluruh staf mereka.
"Kami mengingatkan Anda bahwa Royal Pop Collection bukanlah edisi terbatas," tambah pihak manajemen Swatch.
Melalui pengumuman terpisah, pihak produsen meminta masyarakat untuk tidak lagi berbondong-bondong mendatangi toko fisik dalam jumlah besar secara bersamaan.
"Untuk semua penggemar terkasih di seluruh dunia dari kolaborasi AP x Swatch kami, yang diluncurkan pada 16 Mei. Untuk memastikan keselamatan pelanggan dan staf kami di toko Swatch, kami mohon agar Anda tidak terburu-buru datang ke toko kami dalam jumlah besar untuk mendapatkan produk ini," kata Swatch.
Pihak produsen memastikan bahwa pasokan barang akan terus tersedia dalam beberapa bulan ke depan.
"Koleksi Royal Pop akan tetap tersedia selama beberapa bulan. Di beberapa negara, antrean lebih dari 50 orang tidak dapat diterima, dan penjualan mungkin perlu dihentikan sementara," kata Swatch menutup pernyataannya.