Pemerintah Indonesia menjajaki penguatan kemitraan perdagangan jasa dengan Federasi Rusia di berbagai bidang strategis guna merespons tren positif hubungan ekonomi kedua negara. Kesepakatan ini menjadi poin utama dalam pertemuan bilateral di Kazan, Rusia, pada Jumat (15/5/2026).
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti bertemu dengan Wakil Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia Vladimir Ilyichev untuk membahas peluang di sektor konstruksi, teknologi informasi, hingga perhotelan. Dilansir dari Money, nilai transaksi perdagangan kedua negara pada 2025 telah menyentuh angka 4,8 miliar dollar AS.
"Selain perdagangan barang, Indonesia juga membuka peluang kerja sama di sektor perdagangan jasa," kata Roro dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2026).
Kapasitas tenaga kerja nasional dinilai sangat mumpuni untuk menyuplai kebutuhan pasar di Rusia. Roro memproyeksikan kolaborasi ini akan memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi domestik yang berkelanjutan.
"Indonesia dinilai memiliki sumber daya manusia terampil di bidang teknologi informasi, konstruksi, perhotelan, dan teknologi digital yang dapat mendukung kebutuhan industri Rusia," tambahnya.
Pemerintah juga berkomitmen meningkatkan nilai tambah produk lokal melalui hilirisasi industri sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Rusia saat ini tercatat sebagai mitra dagang dominan Indonesia di kawasan Eurasian Economic Union (EAEU).
"Hubungan perdagangan Indonesia dan Rusia terus menunjukkan tren positif," ujar Roro.
Peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan menjadi fokus utama untuk menjaga momentum pertumbuhan investasi yang lebih luas di masa depan.
"Kami ingin memastikan momentum ini dapat terus diperkuat melalui peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan dan kerja sama investasi yang lebih luas," lanjut dia.
Komoditas ekspor Indonesia ke Rusia didominasi oleh minyak sawit, kopi, produk kelapa, dan kakao. Sebaliknya, Rusia memasok kebutuhan pupuk, batu bara, gandum, serta produk baja untuk mendukung industri nasional.
"Indonesia menyambut baik meningkatnya kepercayaan pasar Rusia terhadap berbagai produk unggulan nasional," kata Roro.
Kualitas dan keberlanjutan produk ekspor tetap menjadi prioritas utama pemerintah dalam mempertahankan daya saing di pasar internasional.
"Kami berkomitmen menjaga kualitas, daya saing, dan keberlanjutan produk ekspor Indonesia di pasar Rusia," lanjut dia.
Terkait regulasi, Indonesia sedang mempercepat proses ratifikasi Indonesia–EAEU Free Trade Agreement yang ditargetkan mulai diimplementasikan pada kuartal ketiga atau keempat tahun 2026. Pembentukan dewan bisnis juga diusulkan untuk menghubungkan para pengusaha secara langsung.
"Pembentukan Indonesia–EAEU Business Council diharapkan dapat menjadi katalis dalam memperkuat hubungan antarpelaku usaha," ujar Roro Esti.
Inisiatif ini dirancang guna memfasilitasi aliran investasi masuk serta menyederhanakan proses perdagangan antara kedua wilayah tersebut.
"Selain itu, juga memperluas peluang investasi serta mendorong peningkatan perdagangan kedua negara," lanjut dia.
Sebagai langkah konkret promosi, para pengusaha Rusia diundang untuk hadir dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Pameran dagang berskala internasional tersebut direncanakan berlangsung di ICE BSD City pada pertengahan Oktober mendatang.
"Trade Expo Indonesia menjadi momentum penting untuk mempertemukan pelaku usaha kedua negara dan membuka peluang kerja sama baru di bidang perdagangan maupun investasi," tegas Roro Esti.
Kerja sama ekonomi ini juga mencakup bidang energi baru terbarukan dan teknologi nuklir untuk tujuan damai di bawah koordinasi BAPETEN. Penguatan konektivitas logistik menjadi agenda tambahan guna memperlancar akses pasar bagi produk-produk strategis kedua negara.