Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan membahas penguatan kerja sama sektor pertanian dalam pertemuan bilateral di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Diskusi ini dilakukan guna mengupayakan kesepakatan baru mengenai komitmen pembelian produk agrikultur Amerika Serikat oleh pihak China.
Dilansir dari Money, pasar memproyeksikan adanya peluang kesepakatan besar, meskipun sektor industri menilai penambahan kuota impor kedelai masih akan terbatas. Sektor ini dianggap tidak terlalu sensitif jika dibandingkan dengan isu keamanan nasional, teknologi, maupun dinamika geopolitik yang selama ini mewarnai hubungan kedua negara.
Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan terus memberikan tekanan agar Beijing bersedia meningkatkan volume impor kedelai dan berbagai komoditas pertanian lainnya. Fokus utama Gedung Putih saat ini adalah memastikan adanya komitmen tertulis yang jauh lebih besar dari pemerintah China.
"Mereka tahu itu adalah sesuatu yang mereka butuhkan. Mereka tahu itu adalah sesuatu yang ingin kami jual. Jadi, apakah itu pada kunjungan tersebut atau segera setelahnya masih harus dilihat," kata seorang pejabat senior AS kepada wartawan.
Pengamat pasar menilai fokus perdagangan kemungkinan besar akan bergeser dari kedelai ke komoditas lain seperti gandum, jagung, sorgum, hingga produk daging. Direktur Konsultan Trivium China, Even Rogers Pay, menyebutkan bahwa masih ada ruang lebar bagi kedua negara untuk menyepakati pembelian ekspor utama lainnya.
"Masih ada ruang untuk mencapai kesepakatan pembelian untuk ekspor utama AS lainnya. Itu bisa berupa kesepakatan pembelian dalam jumlah besar untuk produk-produk utama seperti jagung dan sorgum," kata Direktur Konsultan Trivium China, Even Rogers Pay.
Hingga saat ini, kejelasan mengenai implementasi perjanjian pada Oktober 2025 yang menargetkan pembelian 25 juta metrik ton kedelai per tahun masih belum menemui titik terang. Pay menyoroti ketidakpastian mengenai periode waktu berlakunya target volume ekspor tersebut dalam kalender perdagangan China.
"China belum pernah secara resmi mengkonfirmasi detail perjanjian tersebut. Juga tidak jelas apakah target tersebut berlaku untuk tahun kalender atau tahun panen," kata Pay.
Di sisi lain, industri kedelai di Amerika Serikat tetap menaruh harapan besar pada hasil pertemuan tingkat tinggi antara kedua pemimpin negara tersebut. Direktur Urusan Pemerintahan American Soybean Association, Virginia Houston, menyampaikan antusiasme pelaku industri terhadap potensi peningkatan volume ekspor.
"Ketika Presiden Trump dan Xi bertemu, kami akan sangat senang melihat pembelian tambahan dari China yang akan membawa kami lebih dekat ke jumlah ekspor tipikal dalam setahun," kata Houston.
| Komoditas (Tahun 2024) | Nilai Impor China dari AS (USD) | Nilai Impor China dari AS (IDR) |
|---|---|---|
| Kedelai | 12 Miliar | 210,2 Triliun |
| Jagung, Sorgum, Gandum, Daging | 4,5 Miliar | 78,8 Triliun |
Data menunjukkan ketergantungan China pada kedelai Amerika Serikat terus mengalami penurunan dari 41 persen pada tahun 2016 menjadi hanya sekitar 15 persen pada tahun lalu. Penurunan ini dipicu oleh masuknya pasokan dari Brasil yang menawarkan harga lebih kompetitif di pasar global.
Sejumlah petinggi perusahaan besar Amerika Serikat, termasuk Chairman Cargill Brian Sikes, dijadwalkan hadir mendampingi Presiden Trump dalam kunjungan tersebut. Kehadiran para eksekutif ini bertujuan untuk memperkuat posisi tawar perusahaan perdagangan biji-bijian terbesar di dunia dalam pasar China.