Manulife Ungkap Kelompok Usia Produktif Salah Kelola Dana Pensiun

Manulife Ungkap Kelompok Usia Produktif Salah Kelola Dana Pensiun

Banyak masyarakat Indonesia dari berbagai kelompok usia terjebak dalam pola pikir keliru saat mempersiapkan dana pensiun sehingga hasilnya tidak optimal. Temuan tersebut diumumkan oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia berdasarkan laporan Asia Care Survey 2025 pada hari Sabtu (15/11/2025).

Kesalahan strategi ini terjadi pada kelompok usia muda hingga yang mendekati masa pensiun, seperti dilansir dari Personalfinance. Sebagian besar pekerja saat ini sebenarnya sudah mulai mengumpulkan bekal keuangan sejak usia muda, namun metode yang digunakan masih belum tepat.

Penyusunan dana masa tua dinilai memerlukan strategi investasi yang matang dan tidak bisa disamakan dengan kegiatan menabung biasa. Masih banyak masyarakat yang mengabaikan tahapan investasi tiga babak yang ideal untuk masa pensiun.

“Sehingga bekal pensiun mereka jauh dari optimal,” kata Eveline Haumahu, Chief Marketing Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Pihaknya menjelaskan bahwa tahapan awal investasi untuk bekal hari tua dinamakan sebagai babak akumulasi. Pada fase ini, tujuan utama para investor adalah mengembangkan modal secara agresif melalui instrumen yang memiliki fluktuasi tinggi.

“Saham atau reksadana saham, emas, bahkan properti bisa jadi pilihan, asal dipahami benar risikonya,” tutur Eveline Haumahu, Chief Marketing Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Namun, hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat usia produktif di Indonesia justru menyimpan lebih dari 50% aset mereka dalam bentuk tunai atau rekening tabungan. Pilihan ini membuat investor hampir tidak mendapatkan imbal hasil karena tabungan dirancang untuk transaksi, bukan pertumbuhan.

Ketika masa pensiun tersisa 3 hingga 5 tahun, investor memasuki babak preservasi untuk meminimalkan risiko modal. Pilihan instrumen bergeser ke obligasi atau reksa dana pendapatan tetap yang memberikan potensi keuntungan lebih terbatas.

Memasuki masa akhir produktif, investor berada di tahap realisasi untuk mengonsumsi bekal pensiun sebagai pengganti pendapatan bulanan. Dana pada fase ini harus ditempatkan di instrumen likuid dan stabil bebas fluktuasi, seperti deposito dan reksadana pasar uang.

Survei tersebut justru menemukan 38% responden berusia di atas 55 tahun masih memprioritaskan properti sebagai aset utama karena mengejar kenaikan harga. Padahal, likuiditas merupakan hal paling utama saat seseorang sudah tidak lagi bekerja secara produktif.

Faktor risiko lain yang kerap diabaikan adalah ketidaksiapan menghadapi peristiwa tidak terduga seperti sakit atau kehilangan pekerjaan. Kondisi tersebut berpotensi merusak seluruh rencana masa tua jika tidak diantisipasi sejak awal.

Masyarakat disarankan untuk melengkapi persiapan hari tua dengan kepemilikan asuransi jiwa, asuransi kesehatan, serta ketersediaan dana darurat yang memadai. Ketiga komponen instrumen keuangan tersebut berfungsi sebagai pelindung rencana pensiun.

Artikel terkait

Rekomendasi