Harga kedelai global berpotensi menguat setelah China berjanji membeli produk pertanian Amerika Serikat (AS) senilai 17 miliar dollar AS atau sekitar Rp 301,17 triliun per tahun hingga 2028. Langkah ini memicu optimisme baru di pasar komoditas pertanian.
Dilansir dari Money, kesepakatan dagang terbaru antara dua negara ekonomi terbesar dunia itu berdampak langsung pada pasar berjangka Chicago Board of Trade (CBOT). Harga futures kedelai sempat naik sekitar 2 persen mendekati level 12 dollar AS per bushel.
Pemerintah China berkomitmen membeli tambahan 25 juta metrik ton kedelai AS setiap tahun pada 2026 hingga 2028. Penguatan harga dipicu oleh ekspektasi peningkatan pembelian tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
Analis pasar dari Farm Futures Bryce Knorr mengatakan, kesepakatan antara AS dan China berpotensi mendorong harga kedelai naik lebih tinggi lagi apabila realisasi pembelian benar-benar terjadi.
Dalam analisanya di Farm Progress, Knorr menyebut harga futures kedelai November berpeluang naik hingga 13 dollar AS sampai 14 dollar AS per bushel atau sekitar Rp 230.308 hingga Rp 248.024 per bushel.
Prospek kenaikan harga dipengaruhi oleh realisasi impor China serta respons petani AS terhadap potensi peningkatan permintaan. Komitmen terbaru ini berada di luar perjanjian pembelian kedelai yang telah diumumkan pada 2025.
Ekspor pertanian AS ke China sempat turun tajam sebesar 65,7 persen secara tahunan menjadi 8,4 miliar dollar AS sepanjang 2025 akibat konflik tarif. Porsi impor kedelai China dari AS juga merosot dari 41 persen pada 2016 menjadi 20 persen pada 2024.
Pasar memandang kesepakatan terbaru ini sebagai peluang pemulihan hubungan dagang kedua negara. Optimisme tersebut ikut mendorong kenaikan saham sejumlah perusahaan agribisnis dan pengolahan daging di AS.
Analis Bryce Knorr mengatakan, pasar masih mencoba membaca detail kesepakatan dagang terbaru antara AS dan China karena terdapat perbedaan antara tahun kalender dan tahun pemasaran kedelai.
Knorr menyoroti pernyataan Kantor Perwakilan Dagang AS yang menyebut China telah memenuhi janji pembelian 12 juta metrik ton kedelai dalam dua bulan terakhir 2025 dan akan menambah pembelian 25 juta metrik ton lagi mulai 2026.
"Bagaimana tambahan 25 juta metrik ton itu memengaruhi harga tergantung pada banyak faktor," tulis Knorr.
Faktor penting lainnya adalah respons industri pengolahan kedelai AS terhadap peningkatan permintaan ekspor. Selain itu, pasar juga menunggu apakah petani AS akan meningkatkan luas tanam kedelai demi memanfaatkan peluang kenaikan harga.
Potensi kenaikan harga kedelai global menjadi perhatian serius bagi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total volume impor kedelai Indonesia sepanjang 2025 mencapai 2,56 juta ton atau mencakup 90 persen kebutuhan nasional.
Ketergantungan yang tinggi ini membuat pergerakan harga kedelai domestik sangat dipengaruhi dinamika pasar global dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Namun, Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai lonjakan harga domestik tidak sepenuhnya dipengaruhi faktor global.
Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center Ade Holis mengatakan selisih harga kedelai internasional dengan harga eceran domestik terlalu lebar untuk dijelaskan hanya oleh biaya distribusi dan logistik.
"Ketimpangan ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam transmisi harga dari global ke domestik," ujar Ade Holis kepada wartawan, Minggu (10/5/2026).
Data NEXT Indonesia Center menunjukkan harga kedelai impor di tingkat eceran domestik sepanjang Februari 2024 hingga Februari 2026 berada di kisaran Rp 13.300 hingga Rp 15.100 per kilogram. Sementara harga acuan internasional hanya sekitar Rp 6.000 hingga Rp 8.100 per kilogram.
Kajian tersebut memperkirakan importir menikmati marjin yang sangat besar. Pada 2025, rata-rata harga kedelai internasional sekitar Rp 6.800 per kilogram, sedangkan harga eceran domestik mencapai Rp 13.900 per kilogram.
Dengan selisih Rp 7.100 per kilogram dan asumsi biaya operasional 30 persen, importir diperkirakan mengantongi marjin indikatif Rp 5.060 per kilogram. Potensi keuntungan importir diperkirakan menembus Rp 12,9 triliun dalam setahun.
Perajin Tempe Mulai Mengubah Strategi Produksi
Di tingkat pelaku usaha kecil, kenaikan harga kedelai impor mulai dirasakan perajin tempe di berbagai daerah. Di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang, produsen memilih mengecilkan ukuran tempe agar harganya tetap terjangkau.
Salah satu karyawan pengrajin tempe, Ami, mengatakan kenaikan harga bahan baku sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
"Awalnya harga kedelai sekitar Rp 9.800, sekarang jadi Rp 10.900 per kilogram, kadang juga lebih," ujar Ami kepada Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Ami menyebut kenaikan kurs dollar AS menjadi pemicu utama melonjaknya harga kedelai impor. Masalah ini diperparah oleh terganggunya jalur perdagangan internasional yang menaikkan biaya distribusi.
"Kalau harga tempe tidak kita naikkan, jadi harganya tetap. Ukurannya saja yang kita kecilkan, lebih tipis dari sebelumnya, kira-kira 1,5 centimeter," kata Ami.
Satu lonjor tempe ukuran besar dijual sekitar Rp 23.000 hingga Rp 25.000, sedangkan ukuran kecil dijual Rp 18.000 hingga Rp 20.000. Strategi ini dipilih agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Kenaikan harga bahan baku mulai berdampak pada penurunan penjualan di pasar tradisional. Banyak pelanggan yang mengurangi nilai pembelian mereka dari Rp 10.000 menjadi Rp 7.000 hingga Rp 5.000 saja.
Kondisi tersebut menurunkan volume produksi dari 7-8 kuintal per hari menjadi sekitar 6,5 kuintal per hari. Perajin mengeluhkan adanya stok tempe yang dikembalikan oleh pedagang pasar karena tidak habis terjual.
"Harapan kami pemerintah bisa membantu produsen tempe rumahan seperti kami, dengan menurunkan harga kedelai. Agar setiap hari kami bisa tetap berproduksi," kata Ami.
Keluhan serupa disampaikan pengusaha tempe rumahan di Kota Semarang. Adip Muharam mengatakan harga kedelai mengalami kenaikan signifikan sejak awal 2026 akibat pelemahan rupiah.
"Kalau bisa ya pemerintah itu ya ditekanlah dolarnya itu kan. Bukan masalah kita orang desa atau orang kota ya. Kita kan juga apa namanya produsen itu kan bergantung juga sama impor," ujar Adip saat ditemui di rumah produksi di Pandean Lamper, Gayamsari, Selasa (19/5/2026).
Adip menyebut harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp 8.000 per kilogram kini telah mencapai Rp 10.500 hingga mendekati Rp 11.000 per kilogram karena mayoritas mengandalkan pasokan impor.
Selain kedelai, harga plastik kemasan melonjak hingga 70 persen. Ati, salah satu produsen lainnya, menyebut harga plastik naik dari Rp 550.000 menjadi Rp 1,15 juta per rol.
Kenaikan biaya produksi memaksa sebagian produsen menaikkan harga jual tempe dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.000 per bungkus secara bertahap sejak Mei 2026. Ati juga menyiasati kondisi ini dengan memperkecil ukuran produk.
"Yang kami khawatirkan itu ketika harga makanan naik semua, tapi ekonomi masyarakat turun. Akhirnya pembeli berkurang," katanya.
Produksi tempe di tempat Ati masih stabil pada kisaran 5 sampai 6 kuintal per hari atau sekitar 2.000 hingga 3.000 potong tempe. Produk tersebut dipasarkan ke pasar tradisional, toko sayur, warung makan, hingga jasa katering.
"Sebisa mungkin kurs rupiah itu tetap stabil sehingga harga-harga bahan baku lain seperti kedelai dan plastik juga bisa ikut stabil," harapnya.
Brasil Tetap Menjadi Pesaing Utama AS
Di tengah optimisme ekspor AS, Brasil diperkirakan tetap menjadi pemain penting dalam perdagangan kedelai global dan berpotensi mengalihkan arus ekspornya ke pasar lain apabila China fokus ke AS.
Sepanjang 2025, nilai ekspor kedelai Brasil ke China mencapai 34,5 billion dollar AS dari total perdagangan pertanian kedua negara sebesar 55,22 miliar dollar AS. Produksi kedelai Brasil diproyeksikan mencapai rekor 180 juta ton pada 2026.
Di sisi lain, China tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan pangan melalui peningkatan produksi domestik. Langkah efisiensi pakan ternak di China berpotensi memangkas impor kedelai hingga 25 persen dalam dekade ini.
Sejumlah pihak masih meragukan realisasi penuh komitmen pembelian China tersebut mengingat riwayat janji pada tahun 2020 yang tidak sepenuhnya sesuai target. Tingginya harga daging sapi AS dan kendala kekeringan juga menjadi hambatan ekspor.
Faktor lain seperti gangguan rantai pasok global dan distribusi pupuk turut membuat pasar komoditas pertanian bergerak lebih volatil sepanjang tahun ini.