Ketegangan AS dan Iran Melemahkan Indeks Utama Wall Street

Ketegangan AS dan Iran Melemahkan Indeks Utama Wall Street

Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran melemahkan indeks utama Wall Street dari level rekor tertinggi pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Sentimen geopolitik tersebut meredam harapan pasar terkait kesepakatan damai dalam waktu dekat, sebagaimana dilansir dari Investasi.

Kondisi pasar kian tertekan setelah Teheran dilaporkan menargetkan pangkalan militer AS pascaserangan baru dari Washington. Tindakan ini terjadi beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan mengenai adanya kompromi dengan Iran.

Konflik tersebut mendorong harga minyak melonjak hampir 3% dan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung juga memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan inflasi global.

Di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan laju inflasi AS pada April 2026 meningkat paling cepat dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan harga energi akibat perang Iran menjadi pemicu utama lonjakan tersebut.

“Saya tidak berpikir data tersebut mengubah narasi pasar. Angkanya tidak seburuk yang dikhawatirkan. Hal itu sedikit meredam ekspektasi kenaikan suku bunga,” ujar Angelo Kourkafas, Senior Global Investment Strategist di Edward Jones.

Kourkafas menambahkan bahwa fokus pasar saat ini masih akan tertuju pada dinamika negosiasi Iran serta perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Menurutnya, kedua faktor tersebut yang akan terus menggerakkan arah pergerakan pasar saham ke depan.

“Fokus pasar masih akan tertuju pada negosiasi Iran dan tren kecerdasan buatan (AI). Kedua faktor itu yang akan menggerakkan narasi pasar saham,” lanjut Angelo Kourkafas, Senior Global Investment Strategist di Edward Jones.

Pada pukul 10:01 pagi waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 110,97 poin atau 0,22% ke posisi 50.533,31. Sementara itu, indeks S&P 500 naik tipis 1,71 poin atau 0,02% ke level 7.521,68 dan Nasdaq Composite melemah 6,80 poin atau 0,02% ke posisi 26.667,93.

Pelemahan bursa juga dipengaruhi oleh jatuhnya sektor industri sebesar 1,1%, yang memimpin penurunan enam dari 11 sektor utama S&P 500. Saham Caterpillar merosot 3%, diikuti penurunan saham maskapai seperti American Airlines, JetBlue, dan Southwest Airlines antara 1,5% hingga 2,2% akibat lonjakan harga minyak.

Meskipun demikian, optimisme terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pertumbuhan laba emiten tetap menjadi penopang pasar. Saham Marvell Technology menguat 2,2%, sedangkan Snowflake melonjak 34% setelah mengumumkan kontrak infrastruktur AI senilai US$ 6 miliar dengan Amazon Web Services.

Kenaikan di sektor teknologi juga diikuti oleh Datadog sebesar 1,1% dan MongoDB sebesar 9,8%. Selain itu, saham ritel seperti Dollar Tree naik 16,8%, Best Buy naik 13,5%, serta Kohl's melonjak 18,5% setelah merilis proyeksi kinerja keuangan yang positif.

Sektor pertahanan turut mendapat stimulus setelah laporan mengenai pembahasan pendanaan pemerintah untuk perusahaan drone mencuat. Saham Unusual Machines melesat 40,1%, sementara AeroVironment dan Kratos Defense & Security Solutions masing-masing meningkat 14,5% dan 12,7%.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami penurunan tetap mendominasi jalannya perdagangan dengan rasio 1,48 banding 1 di Bursa Efek New York dan rasio 1,28 banding 1 di Nasdaq.

Artikel terkait

Rekomendasi