Ketegangan Nuklir Iran Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia

Ketegangan Nuklir Iran Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia

Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan sebesar 1,9 persen menyusul keputusan sepihak dari Teheran terkait program nuklir mereka. Ketegangan baru ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Seperti dilansir dari Money, lonjakan ini dipicu oleh pengumuman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang menghentikan ekspor uranium negaranya. Kebijakan tersebut langsung direspons oleh pasar internasional dengan kenaikan harga pada awal perdagangan di Asia.

Minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka Juli melesat 1,9 persen hingga menyentuh angka 104,52 dollar AS atau sekitar Rp 1,8 juta per barrel. Pergerakan serupa terjadi pada kontrak berjangka West Texas Intermediate AS untuk Juni yang merangkak naik 1,5 persen ke posisi 97,81 dollar AS atau kisaran Rp 1,7 juta per barrel.

Pemerintah Iran tetap teguh untuk melanjutkan aktivitas pengayaan uranium mereka. Sikap keras ini sekaligus membantah klaim Presiden Donald Trump yang sempat menyatakan bahwa proses negosiasi kedua negara telah memasuki tahapan akhir.

Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz tanpa syarat menjadi satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi guncangan energi global saat ini. Kawasan perairan tersebut memegang peranan krusial karena menjadi jalur perlintasan bagi 100 juta barrel minyak dalam setiap pekannya.

Fatih Birol turut mengutip kekhawatiran dari para pelaku industri mengenai dampak jangka panjang dari konflik geopolitik ini terhadap rantai pasok minyak mentah dunia.

"Para eksekutif energi memperingatkan bahwa normalisasi penuh pasokan minyak Timur Tengah mungkin tidak akan terjadi hingga tahun 2027 karena skala gangguan yang disebabkan oleh konflik," kata dia dikutip dari Reuters.

Jika ketegangan bersenjata terus berlanjut di wilayah tersebut, negara-negara di benua Asia dan Afrika diprediksi akan menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka menghadapi ancaman krisis energi parah yang berpotensi melumpuhkan roda perekonomian nasional.

Jalur Alternatif Uni Emirat Arab

Merespons situasi darurat di Selat Hormuz, otoritas Uni Emirat Arab mengambil langkah strategis dengan membangun jaringan pipa darat baru. Infrastruktur ini dirancang sebagai jalur alternatif untuk distribusi minyak tanpa harus melewati perairan Selat Hormuz yang sedang bergolak.

Keberadaan jalur pipa ini diharapkan mampu menjadi solusi konkret agar dunia dapat terhindar dari krisis pasokan energi global jika blokade perairan benar-benar terjadi.

“Saat ini, banyak energi dunia masih mengalir melalui sedikit titik hambatan," jelas CEO Abu Dhabi National Oil Co, Sultan Ahmed Al Jaber, dikutip dari Atlantic Council.

Proyek infrastruktur teranyar ini diproyeksikan bakal melipatgandakan kapasitas ekspor minyak ADNOC melalui Fujairah. Wilayah tersebut merupakan kota pelabuhan strategis yang berada di Teluk Oman dan terletak tepat di luar perimeter Selat Hormuz.

Pemerintah Uni Emirat Arab memilih untuk mempercepat proses pengerjaan proyek pipa darat ini sebagai langkah antisipasi menghadapi eskalasi konflik dengan Iran. Jalur pipa alternatif tersebut ditargetkan dapat mulai beroperasi penuh pada tahun 2027.

Apabila Selat Hormuz nantinya berhasil dibuka kembali, para ahli memperkirakan masih dibutuhkan waktu sekitar empat bulan agar seluruh proses distribusi minyak global bisa kembali berjalan dengan normal.

"Ini bukan hanya masalah ekonomi. Bahkan, ini menciptakan preseden berbahaya begitu Anda menerima bahwa satu negara dapat menyandera jalur perairan terpenting di dunia," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi