Ketegangan Selat Hormuz Picu Kehilangan Pasokan Minyak Global

Ketegangan Selat Hormuz Picu Kehilangan Pasokan Minyak Global

Pasar minyak dunia menghadapi tekanan berat akibat ketegangan di Selat Hormuz yang menghambat distribusi energi global sejak penutupan jalur tersebut pada Rabu, 13 Mei 2026. Situasi ini menyebabkan hilangnya pasokan minyak dalam jumlah besar yang berdampak pada kebijakan penghematan ketat di sejumlah negara.

Berdasarkan data yang dilansir dari Media Indonesia, kawasan Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi perdagangan energi internasional. Sebelum konflik meletus pada 28 Februari, tercatat sekitar 20 juta barel minyak per hari mengalir melalui perairan ini dengan lalu lintas mencapai 70 kapal setiap harinya.

Kondisi saat ini memaksa dunia menanggung penyusutan stok energi yang signifikan secara berkelanjutan. Kerugian tersebut terus bertambah seiring dengan belum adanya tanda-tanda deeskalasi di jalur pelintasan strategis tersebut.

"Pasar yang telah kehilangan satu miliar barel minyak akibat terganggunya produksi atau transportasi akan terus kehilangan sekitar 100 juta barel minyak setiap pekan selama selat itu tetap ditutup," ungkap Amin Nasser, CEO Saudi Aramco.

Nasser menyoroti dampak jangka panjang dari terhentinya arus distribusi ini terhadap kestabilan pasar energi global. Menurutnya, gangguan produksi dan transportasi ini berakar dari situasi keamanan yang tidak kondusif di wilayah Teluk Persia.

Serangan terhadap negara-negara penghasil minyak di kawasan tersebut serta penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran telah memberikan sentimen negatif. Hal ini secara langsung mengganggu keseimbangan suplai bagi negara-negara konsumen di seluruh dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi