Ketidakpastian global dan memanasnya situasi geopolitik memicu tekanan beruntun pada pasar obligasi pemerintah Indonesia sejak permulaan tahun 2026.
Kondisi pasar terkini, dilansir dari Investasi, menunjukkan Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun bertengger di posisi 92,11. Penurunan tipis terjadi pada yield Surat Utang Negara (SUN) tenor lima tahun dari 6,74 persen menjadi 6,73 persen, sedangkan yield SUN tenor 10 tahun turun tipis ke angka 6,85 persen dari posisi sebelumnya 6,86 persen.
Penjelasan mengenai situasi ini disampaikan oleh Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto pada Senin, 25 Mei 2026, yang menegaskan bahwa gejolak pasar obligasi ini sudah berlangsung secara konsisten.
"Faktor geopolitik dan kenaikan harga minyak membuat yield naik cukup tinggi," ujar Ramdhan, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas.
Langkah pengetatan moneter kemudian diambil oleh Bank Indonesia dengan mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen. Kebijakan ini diterapkan demi membentengi stabilitas moneter serta menahan depresiasi rupiah akibat hengkangnya modal asing dari pasar domestik.
Meskipun arus modal asing belum pulih seutuhnya pascapandemi Covid-19, penyesuaian suku bunga ini dipandang esensial. Dampak langsungnya dirasakan melalui lonjakan biaya pendanaan bagi pemerintah maupun korporasi yang menerbitkan obligasi.
"Bagi investor, kondisi ini justru memberi peluang mendapatkan yield yang lebih tinggi dibanding tahun lalu. Namun bagi penerbit obligasi, biaya pendanaan menjadi lebih mahal," kata Ramdhan, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas.
Faktor makro global lain yang mengancam stabilitas pasar adalah eskalasi inflasi global, harga minyak dunia, peningkatan biaya produksi, serta fluktuasi harga komoditas. Dalam situasi penuh volatilitas ini, instrumen surat utang jangka pendek dinilai menjadi pilihan yang lebih aman.
"Obligasi tenor pendek lebih defensif karena perubahan harganya tidak sebesar tenor panjang. Saat volatilitas tinggi, investor cenderung memilih instrumen yang risikonya lebih terukur," ujar Ramdhan, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas.
Institusi perbankan tercatat mulai mengalihkan penempatan dana mereka ke obligasi jangka pendek demi menyelaraskan struktur pendanaan. Untuk pemodal individu, strategi masuk pasar secara berkala disarankan melalui instrumen perdana seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Sukuk Ritel (SR), Savings Bond Ritel (SBR), maupun Sukuk Tabungan (ST).
"Investor ritel sebaiknya masuk secara bertahap karena kondisi pasar masih penuh ketidakpastian. Strategi dollar cost averaging (DCA) bisa dilakukan sambil mencermati perkembangan pasar global," kata Ramdhan, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas.
Pergerakan yield obligasi ke depan akan sangat ditentukan oleh dinamika konflik di Timur Tengah, inflasi dunia, kebijakan suku bunga The Fed, dan pergerakan rupiah. Yield SUN tenor 10 tahun berpotensi menyentuh angka 7 persen jika konflik berlarut, namun bisa melandai ke kisaran 6,5 persen pada akhir tahun jika tensi mereda.