Kiai Ponpes Ndholo Kusumo Pati Ditangkap Terkait Pelecehan Santriwati

Kiai Ponpes Ndholo Kusumo Pati Ditangkap Terkait Pelecehan Santriwati

Seorang pengasuh pondok pesantren berinisial Ashari ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian atas dugaan pelecehan seksual terhadap puluhan santriwati di Ponpes Ndholo Kusumo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kasus ini mencuat setelah salah satu korban mengungkapkan praktik manipulasi berkedok pengobatan batin.

Dilansir dari Suara, tersangka menggunakan otoritasnya sebagai guru untuk mendekati para korban secara bertahap hingga melakukan tindakan asusila. Berdasarkan laporan tersebut, aksi pencabulan ini diduga menimpa puluhan santri di lingkungan pesantren yang berlokasi di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu.

Salah satu korban yang menggunakan nama samaran Tari memberikan kesaksian mengenai situasi internal pesantren yang dinilai sangat menekan. Ia menyebutkan adanya perlakuan kasar dari oknum kiai tersebut apabila instruksinya tidak dipatuhi oleh para santriwati.

"Di sana itu keras," ujar Tari.

Tari menjelaskan bahwa tindak kekerasan fisik sering terjadi di lingkungan tersebut sebagai bentuk pendisiplinan yang menyimpang. Penegasan ini menggambarkan pola relasi kuasa yang digunakan pelaku untuk membungkam para korban di bawah asuhannya.

"Di sana itu menurutnya kalau tidak benar ya langsung sikat dipukul-pukul disikat. Ya sama oknum kiai itu tadi," lanjut Tari.

Dalam pengakuannya, Tari memerinci bagaimana pelecehan tersebut dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap lumrah dalam budaya pesantren. Pelaku memanfaatkan dalih kedekatan antara santri dan guru untuk menormalisasi kontak fisik yang tidak wajar.

"Awal mula kan bertahap, nggak separah itu. Awal mula disuruh mijitin, terus dicium. Kalau dah selesai kan pamitan, terus dicium kanan-kiri. Di situ biasa. Kalau santri biasa cium tangan," beber Tari.

Kecurigaan korban mulai muncul saat permintaan pelaku meningkat menjadi ajakan untuk menginap bersama saat kegiatan di luar pesantren. Pelaku sering membawa korban dalam agenda ziarah atau salawatan sebelum melancarkan aksinya dengan alasan spiritual.

"Di sana kan ada guru tarikah. Bilangnya disuruh guru tarikah. Bagian dari nyembuhin sakit," kata Tari.

Modus operandi yang digunakan pelaku melibatkan pemberian sugesti negatif terhadap kondisi mental korban. Tersangka meyakinkan para santriwati bahwa mereka memiliki penyakit hati yang hanya bisa disembuhkan melalui metode khusus yang ia tawarkan.

"Kamu itu banyak penyakitnya, obatnya harus gini," ujar Tari.

Meskipun merasa ada yang janggal, korban mengaku sempat berada dalam kondisi bingung akibat manipulasi psikologis tersebut. Ia merasa rendah diri akibat doktrin penyakit batin yang ditanamkan oleh tersangka secara terus-menerus.

"Aku nggak nangkep gimana-gimana. Cuma dalam hati, kok aku seburuk itu. Kadang mau, kadang menolak," jelas Tari.

Tari mengonfirmasi bahwa meski mengalami berbagai bentuk pelecehan dan diminta tidur bersama, dirinya tidak sampai melakukan hubungan intim dengan pelaku. Saat ini, tersangka Ashari telah ditahan pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap para korban.

Artikel terkait

Rekomendasi