Dokter Bedah Arloji Mati: Kisah Penjaga Waktu di Pinggir Jalan

Dokter Bedah Arloji Mati: Kisah Penjaga Waktu di Pinggir Jalan

Di tengah perkembangan teknologi digital dan maraknya penggunaan smartwatch maupun telepon genggam sebagai penunjuk waktu, keberadaan tukang servis jam tangan pinggir jalan masih tetap bertahan di sejumlah sudut kota.

Lapak-lapak kecil servis jam masih mudah ditemukan di sejumlah tepi jalan. Di tempat sederhana itulah para tukang servis jam memperbaiki arloji lama milik pelanggan.

Jam tangan lama yang sudah kusam, jarumnya berhenti bergerak, atau kacanya mulai tergores tetap dipertahankan pemiliknya. Sebagian memilih memperbaiki dibanding membeli baru karena jam tersebut menyimpan cerita sebagai hadiah, hingga penanda perjalanan hidup.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat menilai profesi tukang servis jam tetap bertahan karena masih ada masyarakat yang membutuhkan keterampilan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi. Menurut Rakhmat, nilai sentimental menjadi salah satu alasan terbesar seseorang tetap mempertahankan jam tangan lama meski sudah rusak atau usang. Ia menilai barang tertentu tidak hanya dipandang dari fungsi, tetapi juga memiliki makna emosional yang kuat bagi pemiliknya.

"Nah jam tangan bisa menjadi kenang-kenangan dari orang tua, hadiah dari orang penting atau simbol momen tertentu dalam hidup seseorang," kata Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Karena itu, banyak orang memilih memperbaiki jam lama agar kenangan yang melekat pada barang tersebut tetap terjaga. Selain itu, Rakhmat bilang, perbaikan jam tangan, terutama jam mekanis dan model lama, membutuhkan ketelitian yang hanya bisa dilakukan orang dengan keahlian khusus.

"Jadi ini juga kan kalau kita lihat banyak jam tangan terutama yang mekanis atau model lama membutuhkan perbaikan yang teliti dan dikerjakan secara manual oleh orang-orang yang ahli," ujar Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Ia menjelaskan, selama masih ada barang yang perlu diperbaiki dan ada orang yang memiliki keterampilan tersebut, profesi tukang servis jam akan terus hidup di tengah masyarakat.

Rakhmat menilai profesi tukang servis jam masih memiliki masa depan meski jumlahnya tidak sebanyak dulu. Menurut dia, saat ini mulai muncul tren penggunaan barang klasik, barang koleksi, hingga budaya memperbaiki barang atau repair culture.

"Dalam masyarakat modern muncul tren seperti minat pada barang klasik, barang berkualitas dan budaya memperbaiki barang atau repair culture," kata Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

"Nah selama masih ada orang yang menggunakan jam tangan mekanis jam mahal atau jam koleksi jasa servis tetap dibutuhkan," sambung Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Meski begitu, Rakhmat mengakui minat generasi muda terhadap profesi berbasis keterampilan manual kini tidak sebesar dulu karena banyak yang lebih tertarik pada pekerjaan berbasis teknologi maupun digital. Namun, ia menilai profesi seperti tukang servis jam tetap memiliki peluang dilanjutkan generasi muda apabila keterampilan tersebut diajarkan dengan baik dan memiliki prospek usaha yang jelas.

"Jadi jika keterampilan ini diajarkan dengan baik dan didukung dengan peluang usaha profesi seperti ini menurut saya tetap bisa menarik bagi generasi muda ini kan tapi kan ini tergantung dari konteksnya," kata Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Rakhmat juga menilai keberadaan tukang servis jam tangan menjadi gambaran bagaimana usaha kecil mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Menurut dia, usaha kecil biasanya lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat sekitar.

"Jadi usaha kecil biasanya lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Nah mereka biasanya bertahan karena memiliki pelanggan tetap dan hubungan sosial yang kuat dengan lingkungan sekitar," ujar Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Empat Dekade Mengurai Komponen Mesin

Keberadaan tukang servis jam tangan pinggir jalan hingga kini masih bertahan di tengah perkembangan zaman. Lapak-lapak kecil di pinggir jalan masih didatangi pelanggan dari berbagai kalangan usia. Salah satunya terlihat di lapak sederhana milik Safrizal (74) di Jalan Pitara Raya, Pancoran Mas, Depok.

Safrizal mengaku telah menjalani profesi sebagai tukang servis jam selama kurang lebih empat dekade. Sebelum membuka lapak servis, ia sempat bekerja sebagai kondektur bus. Namun pekerjaan itu ditinggalkannya karena merasa terlalu lelah harus pulang larut malam setiap hari.

Tanpa memiliki dasar keahlian khusus, Safrizal belajar memperbaiki jam secara otodidak dengan cara membongkar sendiri bagian-bagian mesin jam lalu menghafal kembali posisi setiap komponennya.

"Caranya, baut-baut jam itu saya lepas dan saya pisah-pisahkan sendiri. Sambil membongkar, saya perhatikan dan saya contek lagi posisinya tadi baut ini ditaruh di mana, yang itu di mana," kata Safrizal, Tukang Servis Jam.

Menurut dia, proses belajar itu berlangsung cukup cepat karena didorong rasa penasaran dan keyakinan bahwa dirinya juga mampu menguasai keterampilan tersebut. Alhasil, dirinya mahir memperbaiki jam dalam kurun waktu tujuh hari.

Keberadaan lapak yang berada di tepi jalan, Safrizal hanya mengandalkan alat sederhana seperti obeng kecil, tang, gunting, pisau, dan jepitan untuk memperbaiki jam pelanggan. Meski sederhana, ia merasa alat-alat manual tersebut justru lebih tahan lama dibanding peralatan modern.

"Alat-alat saya ini alami saja, tidak canggih. Tapi kalau dibandingkan dengan alat yang canggih, alat saya ini belum kalah. Alat yang canggih itu terkadang belum lama dipakai sudah patah, sedangkan alat manual saya ini kuat dan awet," katanya Safrizal, Tukang Servis Jam.

Setiap hari Safrizal membuka lapaknya dari pagi hingga sore hari dan mengaku jarang libur selama kondisi tubuhnya masih sehat. Namun, penghasilannya sebagai tukang servis jam tidak selalu stabil. Dalam sehari, ia terkadang hanya memperoleh pendapatan Rp20.000 hingga Rp30.000 dari jasa mengganti baterai atau memperbaiki bagian kecil jam tangan.

"Ada kalanya sehari dapat Rp20.000, kadang Rp30.000, ya diterima saja. Tadi dari pagi sampai sore baru dapat Rp27.000 dari jasa potong rantai dan ganti pen samping jam," tutur Safrizal, Tukang Servis Jam.

Safrizal mengatakan jenis kerusakan jam tangan saat ini juga jauh berbeda dibanding beberapa dekade lalu. Jika dulu dirinya sering menangani kerusakan rumit pada jam mekanikal lama, kini kebanyakan pelanggan hanya datang untuk mengganti baterai atau memperbaiki IC. IC atau Integrated Circuit adalah chip pengatur ketetapan waktu.

"Penyakit jam sekarang kebanyakan cuma baterai atau IC, tidak banyak macamnya. Kerjanya lebih enak sekarang. Kalau cuma ganti baterai, paling lima menit selesai," ujarnya Safrizal, Tukang Servis Jam.

Meski jumlah pelanggan tidak seramai dulu, Safrizal mengaku masih banyak anak muda datang membawa jam lama maupun jam bergaya vintage untuk diperbaiki karena memiliki nilai kenangan tersendiri.

Dokter Ahli Bedah Jam

Cerita serupa juga datang dari Ade atau yang akrab disapa Mang Ade (78), tukang servis jam di kawasan Citayam. Di bawah rindangnya pohon besar di pinggir Jalan Raya Citayam, tepat di depan Pos Polisi Citayam, Mang Ade menjalani kesehariannya di sebuah lapak kecil bercat hijau yang berdiri sederhana di tepi jalan.

Ade mengaku mulai belajar servis jam sejak pertengahan tahun 1980-an setelah diajak seorang pemilik toko servis jam di Jakarta. Sebelum menekuni profesi tersebut, ia sempat berjualan rokok untuk bertahan hidup di perantauan. Menurut Ade, perkenalannya dengan sang guru bermula dari kebiasaan berjualan rokok di Jakarta. Dari situ hubungan mereka semakin dekat karena ternyata berasal dari daerah yang sama, yakni Garut.

"Singkat cerita, kami jadi akrab dan sering main gaple bareng setiap malam Minggu sampai pagi di rumah beliau," kata Ade, Tukang Servis Jam.

Kedekatan itu kemudian membuat sang pemilik toko menawarkan Ade untuk belajar memperbaiki jam tangan.

"Akhirnya beliau menawarkan, ‘Daripada dagang rokok ribet, mau tidak belajar jam? Pikirkan dulu.’ Akhirnya Bapak mau," ujarnya Ade, Tukang Servis Jam.

Ade mengatakan, proses belajar servis jam saat itu dilakukan dengan sangat disiplin. Ia diminta membongkar dan memasang kembali mesin jam berulang kali hingga hafal posisi setiap komponennya di luar kepala. Setelah merasa cukup mampu menangani berbagai jenis kerusakan, Ade akhirnya membuka usaha servis jam sendiri.

Pada masa itu, persaingan antar tukang servis jam di Jakarta disebut sangat ketat. Meski demikian, Ade berhasil bertahan hingga puluhan tahun dan membiayai kehidupan keluarganya dari pekerjaan tersebut.

"Semua ini berkat dukungan istri. Kami menikah saat Bapak belum punya apa-apa, hidup di pasar," ujarnya Ade, Tukang Servis Jam.

Menurut Ade, sang istri memiliki peran besar dalam mengatur keuangan keluarga hingga akhirnya mereka mampu membangun rumah sendiri di Jakarta. Ia juga masih mengingat candaan sang istri soal profesinya sebagai tukang servis jam.

"Kalau ditanya suaminya kerja apa, dia jawab, ‘Suami saya dokter ahli bedah.’ Orang kaget dan tanya ahli bedah apa, dia jawab, ‘Ahli bedah jam. Dia hebat, jam yang sudah mati saja bisa hidup lagi,’" tutur Ade, Tukang Servis Jam.

Merawat Memori Hidup yang Melingkar

Sementara itu, bagi Hendra (48), jam tangan yang dipakainya bukan sekadar penunjuk waktu. Jam itu telah menemaninya hampir 15 tahun sejak diberikan oleh sang ayah saat dirinya pertama kali diterima bekerja.

Hendra menuturkan, jam tersebut menyimpan banyak kenangan karena selalu menemaninya dalam berbagai momen penting kehidupan, mulai dari bekerja, menikah, hingga saat anaknya lahir. Ia mengatakan salah satu momen yang paling diingat adalah ketika sang ayah memasangkan jam itu langsung ke tangannya.

"Yang paling saya ingat itu waktu pertama diterima kerja. Saya masih ingat beliau sendiri yang masangin jam ini ke tangan saya," ujarnya Hendra, Pelanggan.

Karena alasan itu, Hendra memilih terus memperbaiki jam tersebut meski beberapa kali mengalami kerusakan. Menurut dia, membeli jam baru mungkin lebih mudah, tetapi tidak akan menggantikan nilai emosional yang melekat pada jam lamanya.

Selain faktor emosional, Hendra menilai memperbaiki jam masih lebih ekonomis dibanding membeli baru. Namun baginya, alasan terbesar tetap karena rasa sayang terhadap barang yang telah lama menemaninya.

"Daripada beli baru yang sekarang harganya lumayan, servis kadang cuma ganti baterai atau bersihin mesin. Tapi buat saya bukan cuma soal murahnya juga, lebih karena sayang kalau dibuang," kata Hendra, Pelanggan.

Ia juga merasa jam lama memiliki karakter tersendiri yang tidak dimiliki barang baru.

"Kita tahu sejarah barang itu. Lecetnya juga kadang jadi kenangan sendiri. Beda sama jam baru yang mungkin bagus, tapi belum punya cerita apa-apa," ujarnya Hendra, Pelanggan.

Berbeda dengan Hendra yang mempertahankan jam warisan keluarga, Riko (27) justru mengenal dunia jam tangan dari ketertarikannya terhadap barang-barang vintage.

Ia mengatakan jam yang kini rutin dipakainya dibeli sekitar tiga tahun lalu dari seorang teman kolektor. Awalnya, Riko mengaku tidak terlalu tertarik menggunakan jam tangan. Namun setelah memiliki jam vintage pertamanya, ia mulai menyukai barang-barang yang dianggap memiliki desain klasik dan cerita tersendiri.

"Dulu sebenarnya saya enggak terlalu peduli sama jam tangan justru. Tapi sejak punya ini, saya mulai suka barang-barang yang punya desain dan cerita," kata Riko, Pelanggan.

Menurut dia, desain jam lama terasa lebih unik dibanding banyak model jam modern yang dinilai cenderung serupa. Riko mengatakan jam tersebut juga memiliki nilai personal karena dibeli menggunakan hasil pekerjaan freelance pertamanya setelah melewati masa sulit di awal bekerja. Jam itu pun disebut menemani berbagai fase hidupnya hingga membuat dirinya semakin percaya diri saat mulai bekerja.

"Dulu waktu awal kerja saya sering pakai ke mana-mana jadi bikin saya pede lah gitu karena ngerasa punya sesuatu yang saya suka dan saya rawat sendiri," kata Riko, Pelanggan.

Menurut Riko, dirinya lebih memilih memperbaiki barang lama dibanding langsung membeli baru karena menyukai proses merawat benda yang masih bisa digunakan. Ia menilai jam lama memiliki karakter yang tidak bisa ditemukan pada barang baru.

"Jam lama itu punya karakter. Kadang warnanya sudah agak pudar, ada gores-goresan, tapi justru itu yang bikin unik. Kalau jam baru kan masih mulus belum punya cerita," tutur Riko, Pelanggan.

Riko juga meyakini profesi tukang servis jam masih akan tetap bertahan karena minat terhadap barang vintage dan analog mulai tumbuh kembali di kalangan anak muda.

"Sekarang justru banyak anak muda mulai suka barang vintage and analog lagi. Orang mulai cari sesuatu yang lebih personal dan punya cerita, bukan sekadar barang baru," tutur Riko, Pelanggan.

Artikel terkait

Rekomendasi