Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren penurunan hingga menyentuh level Rp 17.672 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026) pukul 10.45 WIB. Penurunan mata uang domestik ini tercatat sebesar 0,43% secara harian, seperti dilansir dari Investasi.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan negatif ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan pernyataan dari pemerintah. Pernyataan tersebut dinilai memengaruhi cara pandang pasar terhadap stabilitas keuangan dalam negeri.
Ibrahim menilai opini yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto terkait penurunan nilai rupiah berisiko mendatangkan tanggapan negatif dari para pelaku pasar. Presiden sempat menyatakan bahwa pelemahan mata uang ini tidak memberikan dampak yang berarti bagi kehidupan masyarakat di perdesaan.
"Ya, rupanya pernyataan dari Presiden Prabowo tersebut juga berakibat fatal terhadap pelemahan mata uang rupiah," ujar Ibrahim, Senin (18/5/2026).
Dampak dari penurunan nilai tukar ini menurutnya tidak boleh diabaikan karena memiliki efek domino yang luas bagi tatanan ekonomi domestik. Penguatan mata uang dolar AS secara langsung bakal membengkakkan biaya importasi komoditas, terutama minyak mentah yang angka kebutuhannya masih sangat tinggi.
Ibrahim menambahkan, lonjakan nilai dolar AS biasanya berjalan beriringan dengan kenaikan harga minyak mentah di pasar global. Tren ini dapat memperberat beban fiskal Indonesia yang saat ini harus mengimpor energi dengan volume berkisar 1,5 juta barel per hari.
Kondisi pasar yang tidak menentu ini juga dikhawatirkan dapat memicu kepanikan di masyarakat. Ada potensi warga berbondong-bondong mengubah bentuk simpanan mereka dari aset rupiah ke valuta asing, sehingga memperparah depresiasi mata uang nasional.
Pemerintah disarankan untuk segera merumuskan dan mempublikasikan langkah konkret demi mengembalikan kekuatan rupiah. Fokus utama sebaiknya diarahkan pada pemangkasan ketergantungan impor energi serta mitigasi risiko terhadap gejolak ekonomi global.
"Seharusnya pemerintah memberikan satu masukan ya tentang bagaimana tentang kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi, kemudian akan ada B50 sebagai pendamping dari bahan bakar fosil ya, kemudian bagaimana cara melakukan menangani krisis agar rupiah ini kembali mengalami penguatan," katanya.
Akses informasi yang semakin terbuka membuat masyarakat di berbagai daerah kini lebih melek terhadap isu finansial, termasuk pergerakan dolar AS dan opsi investasi. Oleh karena itu, komunikasi publik yang dilakukan pemerintah dituntut untuk lebih taktis dan hati-hati agar tidak menimbulkan kecemasan baru di sektor keuangan.