Konflik AS-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Risiko Inflasi Global

Konflik AS-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Risiko Inflasi Global

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berkepanjangan memicu tekanan besar pada ekonomi global akibat lonjakan harga minyak dunia hingga melampaui US$ 100 per barel. Kondisi tersebut dilaporkan telah meningkatkan risiko inflasi dan mengganggu stabilitas pasar keuangan internasional pada Senin (11/5/2026).

Dilansir dari Detik Finance, kegagalan negosiasi damai kedua negara menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga energi secara signifikan. Situasi ini berdampak langsung pada volatilitas pasar dan kebijakan moneter di berbagai negara maju.

Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi menyampaikan bahwa kebuntuan diplomasi tersebut memberikan dampak domino terhadap biaya energi global dalam acara Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026.

"Negosiasi perang antara Amerika Serikat dan juga Iran masih belum menghasilkan kesepakatan. Konflik AS dan Iran ini telah mendorong harga minyak yang meningkat hingga di atas US$ 100 per barrel. Nah, kenaikan harga energi ini tentu saja menyebabkan risiko inflasi global yang meningkat," ujar Ari Rizaldi, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri.

Gangguan pada pasokan minyak mentah dunia diperkirakan akan memaksa bank sentral global untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari proyeksi sebelumnya. Hal ini terlihat dari ekspektasi pasar terhadap tingkat suku bunga di Amerika Serikat.

"Kita lihat, volatilitas di pasar keuangan global juga semakin tinggi akibat sentimen terganggunya pasokan minyak dunia. Situasi ini juga memicu respon Bank Sentral Global untuk menunda penurunan suku bunga. Konsensus pasar per hari ini kita lihat, probabilitas suku bunga Amerika Serikat akan tetap bertahan pada 3,75% hingga tahun 2027," ungkap Ari Rizaldi, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri.

Meskipun kondisi eksternal tidak menentu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 justru menunjukkan tren positif dengan angka 5,61 persen. Namun, pasar domestik tetap tidak luput dari dampak pelarian modal asing dan pelemahan nilai tukar.

Berdasarkan data hingga 8 Mei 2026, tercatat adanya arus keluar dana asing yang masif dari pasar saham dan obligasi. Penurunan indeks saham gabungan dibarengi dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah sebagai respon atas risiko global tersebut.

"Pertanggal 8 Mei, secara year-to-date, aliran modal asing dari pasar saham mencapai Rp 37,6 triliun, dan dari pasar obligasi sebesar Rp 13,3 rupiah. Per tanggal 8 Mei 2026, IHSG telah turun 19,4 % ke level 6.969. Sementara Yield Obligasi mencatat kenaikan sebesar 53 basis point ke posisi 6,6% tahun ini," tutup Ari Rizaldi, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri.

Artikel terkait

Rekomendasi