Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) serta krisis lapangan kerja yang meluas di Inggris pada kuartal I-2026.
Kondisi pasar tenaga kerja Inggris memburuk secara mendadak dengan lonjakan angka pengangguran yang tidak terduga, dilansir dari Detik Finance berdasarkan laporan resmi Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS).
Data ONS mencatat tingkat pengangguran merangkak naik hingga menyentuh angka 5% pada kuartal pertama tahun ini. Sementara itu, ketersediaan lowongan pekerjaan sepanjang Februari sampai April 2026 merosot sebanyak 28.000 posisi atau turun 3,9% menjadi 705.000 lowongan, yang menjadi catatan terendah sejak April 2021.
Sektor formal dengan skala upah rendah menjadi area yang paling terdampak oleh kelesuan ekonomi akibat konflik global tersebut. Direktur Statistik Ekonomi ONS memberikan rincian mengenai area bisnis yang mengalami dampak paling signifikan.
"Sektor-sektor dengan gaji rendah seperti perhotelan dan ritel telah mengalami penurunan terbesar dalam jumlah lowongan dan jumlah karyawan, baik dalam beberapa bulan terakhir maupun selama setahun terakhir," kata Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown dikutip dari BBC, Jumat (29/5/2026).
Penurunan ketersediaan lowongan kerja dipicu oleh sikap pelaku usaha yang memilih untuk menunda proses perekrutan karyawan baru. Selain itu, peningkatan biaya tenaga kerja, termasuk adanya perubahan kebijakan pajak ketenagakerjaan, turut mendorong lonjakan angka pengangguran.
Para analis memproyeksikan permintaan tenaga kerja akan terus melemah jika konflik AS-Iran terus berkepanjangan. Kombinasi antara kenaikan jumlah pengangguran dan perlambatan pertumbuhan pendapatan diprediksi bakal memaksa Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga demi mengendalikan inflasi.
Rata-rata pertumbuhan pendapatan di Inggris terpantau melandai ke angka 3,4% pada kuartal I-2026, atau hanya berselisih lebih tinggi 0,3% setelah disesuaikan dengan kalkulasi inflasi. Meski perlambatan upah biasanya membuka peluang bagi penurunan suku bunga, situasi anomali saat ini justru memicu prediksi yang berbeda dari para pengamat pasar modal.
"Mengingat kekhawatiran inflasi, suku bunga tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama," ucap Kepala Strategi di Wealth Club, Susannah Streeter.