Pasar aset kripto global mengalami tekanan besar pada perdagangan Selasa (19/5/2026) pagi akibat lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya kekhawatiran geopolitik terhadap perang Amerika Serikat-Iran.
Dilansir dari Bloomberg, nilai Bitcoin sempat merosot 2,2 persen ke level US$76.551 pada perdagangan Senin sebelum diperdagangkan di kisaran US$76.800 pada pagi waktu London.
Data CoinMarketCap menunjukkan kapitalisasi pasar kripto global menyusut 1,17 persen menjadi US$2,56 triliun, sementara harga Bitcoin terkoreksi 1,11 persen menuju level US$77.058 atau setara Rp1,36 miliar dengan kurs Rp17.699.
Pelemahan ini juga melanda aset digital lain seperti Ethereum yang jatuh 1,94 persen ke level US$2,135, Binance Coin terkoreksi 1,39 persen di posisi US$644, dan Solana melemah 0,87 persen menjadi US$85.
Penurunan tajam dipicu oleh aksi jual besar-besaran di pasar berjangka dengan total posisi bullish yang terlikuidasi mencapai US$590 juta dalam 24 jam terakhir berdasarkan data Coinglass.
Sentimen negatif diperparah oleh situasi di pasar obligasi setelah imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun merangkak naik ke posisi 5,14 persen, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2007.
Analis BTC Markets Rachael Lucas menilai pergerakan negatif ini sepenuhnya dipengaruhi oleh perubahan selera risiko investor di pasar makro global.
"Penurunan harga bitcoin adalah cerita makro," kata analis BTC Markets Rachael Lucas.
Lucas menambahkan bahwa penembusan level support penting di kisaran US$77.800 memicu peningkatan tekanan jual lebih lanjut di pasar.
"Selera risiko telah berubah, dan bitcoin bergerak seiring dengan itu," ujarnya.
Di sisi lain, tekanan pasar sempat sedikit tertahan oleh langkah politik domestik Amerika Serikat terkait situasi militer di Timur Tengah.
Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan pada hari Selasa.
"Saya diminta Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Makota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan untuk menunda serangan," tulis Donald Trump.
Meskipun terjadi gejolak jangka pendek, kondisi fundamental pasar kripto dinilai masih cukup kuat karena minimnya pasokan di bursa perdagangan.
Kepala Perdagangan Derivatif Asia-Pasifik FalconX Sean McNulty menjelaskan bahwa kemerosotan ini diperparah oleh aktivitas lindung nilai investor dari pekan sebelumnya.
"Penurunan tajam bitcoin dipicu aksi stop run di tengah minimnya sentimen positif makroekonomi," kata McNulty.
McNulty melihat pergerakan harga saat ini juga merefleksikan minimnya arus investasi baru yang masuk ke pasar kripto.
"Kelemahan tersebut diperparah oleh aksi lindung nilai terhadap penurunan harga yang masih berlanjut dari minggu lalu," kata McNulty.