Konflik Timur Tengah Hambat Pertumbuhan Penumpang Pesawat Global

Konflik Timur Tengah Hambat Pertumbuhan Penumpang Pesawat Global

Lalu lintas penumpang pesawat global mengalami perlambatan pertumbuhan yang signifikan pada Maret 2026 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Berdasarkan data Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), permintaan penumpang internasional tertekan hebat setelah operasional berbagai maskapai terganggu ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.

Permintaan penumpang atau Revenue Passenger Kilometers (RPK) global tercatat hanya tumbuh 2,1 persen secara tahunan, jauh di bawah angka 6,1 persen pada Februari 2026. Penurunan ini merupakan titik terlemah sejak periode pemulihan pasca pandemi, sebagaimana dilansir dari Money.

Volume lalu lintas yang dikelola maskapai di Timur Tengah dilaporkan menyusut hingga lebih dari separuhnya. IATA menyebutkan total RPK industri secara global berada pada angka 754 miliar, namun secara musiman turun 4,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

"Volume lalu lintas yang diangkut oleh maskapai penerbangan Timur Tengah menyusut lebih dari setengahnya, di tengah dampak konflik di wilayah tersebut," tulis IATA dalam laporannya.

Lembaga tersebut juga menyoroti keterpurukan spesifik pada sektor maskapai yang berbasis di kawasan konflik. Ketegangan antara Iran dan penutupan ruang udara menjadi faktor utama anjloknya performa transportasi udara regional.

"Maskapai penerbangan Timur Tengah mengalami penurunan tajam dalam lalu lintas penumpang, turun 58,6 persen (YoY) pada Maret. Hal ini mencerminkan dampak meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik Iran dan penutupan wilayah udara yang meluas di kawasan tersebut," ungkap IATA.

Kinerja berbeda justru terlihat di kawasan Asia Pasifik yang membukukan pertumbuhan trafik sebesar 11,5 persen. Wilayah ini bahkan mencetak rekor tingkat keterisian penumpang (PLF) tertinggi di dunia yang mencapai 87,2 persen akibat pengalihan rute transit.

"Kinerja ini menggarisbawahi dampak penutupan di pusat-pusat penerbangan Timur Tengah, yang berfungsi sebagai jembatan global yang penting, khususnya pada rute Asia Pasifik-Eropa," jelas IATA.

Meskipun trafik internasional melemah, pasar domestik tetap menjadi penopang utama dengan kenaikan global sebesar 6,5 persen. China memimpin pertumbuhan domestik sebesar 13,7 persen, sementara rute langsung Asia-Eropa melonjak karena penumpang menghindari hub transit di Timur Tengah.

"Mengingat peran Timur Tengah sebagai pusat utama lalu lintas transit antara Eropa dan Asia, khususnya untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara—konflik di kawasan tersebut menyebabkan pengalihan lalu lintas yang signifikan menuju layanan langsung antara kedua wilayah tersebut," tutur IATA.

IATA memproyeksikan kapasitas kursi global tetap tertekan pada April 2026 dengan penurunan 0,7 persen. Namun, pertumbuhan positif sebesar 2 persen diperkirakan akan kembali terjadi pada Mei 2026 seiring perbaikan kapasitas secara bertahap.

Artikel terkait

Rekomendasi