Konflik Timur Tengah Paksa Kilang Minyak China Tunda Ekspansi

Konflik Timur Tengah Paksa Kilang Minyak China Tunda Ekspansi

Sejumlah perusahaan pengilangan minyak di China menunda proyek ekspansi yang dijadwalkan beroperasi tahun ini. Penundaan tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan minyak mentah dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz akibat konflik Iran, seperti dikutip dari Internasional.

Penundaan proyek dengan total kapasitas sekitar 500.000 barel per hari (bph) ini berpotensi membatasi pertumbuhan permintaan minyak China. Langkah ini juga dapat menahan kenaikan permintaan global terhadap minyak mentah.

Kondisi tersebut terjadi ketika industri pengolahan minyak di negara importir minyak terbesar dunia itu menghadapi tantangan berupa melemahnya konsumsi bahan bakar.

Salah satu proyek yang terdampak adalah kilang milik Huajin Aramco Petrochemical Co (HAPCO). Perusahaan ini merupakan patungan antara Saudi Aramco, Norinco Group, dan Panjin Xincheng Industrial Group.

HAPCO menunda pengoperasian kilang berkapasitas 300.000 bph di Kota Panjin menjadi September atau awal Oktober 2026. Fasilitas tersebut awalnya ditargetkan mulai beroperasi pada Mei atau Juni tahun ini.

Konsultan energi Energy Aspects memproyeksikan kilang baru beroperasi akhir kuartal III-2026 akibat ketidakpastian pasokan bahan baku dari Selat Hormuz. Pihak HAPCO dan Saudi Aramco menolak memberikan komentar terkait jadwal operasional tersebut.

Pada 2023, Saudi Aramco menyatakan akan memasok hingga 210.000 bph minyak mentah ke HAPCO. Proyek ini juga mencakup pabrik perengkahan etilena berkapasitas 1,65 juta ton per tahun dan fasilitas produksi paraxylene sebesar 2 juta ton per tahun.

Penundaan Operasional Kilang PetroChina

Rencana pengoperasian kembali unit pengolahan minyak mentah berkapasitas 200.000 bph di kilang Dalian milik PetroChina juga ditunda tanpa batas waktu yang jelas. Penundaan terjadi setelah adanya perubahan kondisi pasar minyak global.

PetroChina sebelumnya berencana menghidupkan kembali fasilitas tersebut pada pertengahan tahun untuk memanfaatkan tingginya margin pengolahan minyak mentah Rusia yang dijual dengan diskon. Namun, diskon harga minyak Rusia kini sebagian besar telah menghilang.

Konflik di Timur Tengah telah mengganggu pasokan global dan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan minyak Rusia. PetroChina belum memberikan tanggapan resmi mengenai penundaan unit Dalian ini.

Margin Kilang Tertekan dan Permintaan BBM Melemah

Konflik Iran menekan profitabilitas industri pengolahan minyak di China karena mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Di sisi lain, perusahaan pengilangan tetap menghadapi pembatasan harga bahan bakar dari pemerintah.

Pertumbuhan kendaraan listrik turut mengurangi permintaan bahan bakar konvensional secara signifikan. Tingkat pengolahan minyak di China turun menjadi sekitar 13,3 milliar bph pada April 2026, level terendah sejak Agustus 2022.

Volume pengolahan tersebut setara dengan sekitar 69% dari total kapasitas pengolahan nasional. Kapasitas pengolahan minyak China sendiri mencapai sekitar 960 juta ton per tahun atau setara 19,2 juta bph.

Ekspansi Kapasitas Kilang di Asia Selatan

Para analis memperkirakan Asia akan menjadi wilayah dengan penambahan kapasitas kilang terbesar pada tahun ini, dipimpin oleh India dan China. Di India, HPCL dan IOC diperkirakan menambah kapasitas pengolahan sekitar 526.000 bph sepanjang 2026.

Proyek kilang Barmer milik HPCL berkapasitas 180.000 bph sempat mengalami keterlambatan akibat kebakaran. Perusahaan menyatakan fasilitas tersebut akan mulai beroperasi bulan ini dengan kapasitas awal sekitar 60%.

Sementara itu, Indian Oil Corp menyampaikan bahwa proyek ekspansi kilang di Barauni, Gujarat, dan Panipat akan selesai masing-masing pada Agustus, November, dan Desember 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi