Sejumlah konsumen kendaraan bermotor mulai beralih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menyusul lonjakan harga BBM non-subsidi yang dipicu krisis energi global. Fenomena perpindahan konsumsi ini dilaporkan oleh PT Pertamina Patra Niaga dalam sebuah webinar pada Rabu (16/5/2026), sebagaimana dilansir dari Lestari.
Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga Tenny Elfrida menjelaskan bahwa banyak pemilik kendaraan, termasuk kelas premium, kini menurunkan standar kualitas bahan bakar mereka. Langkah ini diambil masyarakat guna menyiasati pengeluaran akibat tingginya harga minyak dunia.
"Dampak yang mungkin tidak semua orang menyangka adalah masyarakat men-switch mobilnya, yang tadinya hanya mau dengan jenis BBM non-subsidi, sekarang merelakan mau memakai BBM subsidi," ujar Tenny Elfrida, Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga.
Perubahan perilaku konsumen ini tidak mengurangi total volume konsumsi energi nasional secara signifikan. Sebaliknya, data menunjukkan adanya pergeseran penggunaan dari produk berkualitas tinggi seperti Pertadex ke produk dengan angka oktan yang lebih rendah.
"Faktanya memang tidak ada perubahan konsumsi. Yang tadinya memakai Pertadex, sekarang menurunkan standar," kata Tenny Elfrida.
Tercatat hampir satu juta pengguna baru telah mendaftarkan akun di aplikasi MyPertamina untuk mendapatkan akses pembelian BBM bersubsidi. Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa tekanan ekonomi mendorong masyarakat mencari alternatif bahan bakar yang lebih terjangkau.
Kenaikan harga BBM non-subsidi sendiri telah terjadi sebanyak dua kali dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Faktor utama penyebab tren ini adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang diprediksi dapat memberikan tekanan berkelanjutan pada harga energi domestik jika konflik melampaui enam bulan.
Guna merespons lonjakan pengguna BBM bersubsidi tersebut, pihak Pertamina sedang melakukan tinjauan mendalam mengenai regulasi penyaluran di lapangan. Upaya ini dilakukan agar subsidi energi tetap tepat sasaran di tengah meningkatnya minat konsumen.
"Kami sedang mengkaji pembatasan jumlah BBM subsidi untuk setiap konsumen," ujarnya Tenny Elfrida.
Sebagai langkah strategis menjaga ketahanan energi, Pertamina melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah dari Afrika dan Amerika Serikat. Selain itu, perusahaan juga fokus pada pengembangan energi hijau melalui uji coba bahan bakar berkelanjutan (SAF).
Tenny memaparkan bahwa saat ini Pertamina sedang menyiapkan integrasi minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) ke dalam campuran SAF dengan kadar 1 hingga 3 persen. Inisiatif ini merupakan bagian dari peta jalan perusahaan menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
"Kalau berhasil, komposisi SAF memang masih didominasi 97 persen bahan bakar fosil, tetapi ini tetap menjadi salah satu langkah menuju energi yang lebih hijau," ujarnya Tenny Elfrida.
Di sisi lain, Pertamina turut mengoptimalkan fasilitas penyimpanan terapung dan fleksibilitas kilang untuk menjamin ketersediaan pasokan. Meskipun harga naik, tingkat mobilitas masyarakat di kota besar seperti Jakarta dan Bandung terpantau tetap tinggi yang terlihat dari kepadatan lalu lintas.