Konsumsi Nikel Domestik untuk Kendaraan Listrik Diprediksi Tetap Rendah

Konsumsi Nikel Domestik untuk Kendaraan Listrik Diprediksi Tetap Rendah

Konsumsi nikel di pasar domestik Indonesia untuk industri baterai dan kendaraan listrik diproyeksikan masih berada di bawah angka 1 persen dari total produksi nasional hingga tahun 2035. Temuan ini dirilis melalui hasil riset Energy Shift Institute (ESI) yang dilansir dari Lestari pada Rabu (6/5/2026).

Associate Principal ESI, Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma, mengungkapkan bahwa proyeksi serapan nikel yang sangat kecil tersebut tetap berlaku meskipun terdapat asumsi migrasi massal penggunaan kendaraan bermotor ke model listrik. Saat ini, mayoritas hasil tambang nikel Indonesia masih dialokasikan untuk komoditas ekspor.

“Kalau menganggap EV akan menggantikan seluruh kendaraan bermotor, terutama mobil pada 2035, perhitungan kami melihat konsumsi nikel domestik untuk baterai dan EV di pasar domestik tidak akan melebihi 1 persen dari yang Indonesia produksi di tahun 2024,” ujar Zuhdi dalam webinar Menggali Wawasan Tata Kelola Mineral Kritis di Indonesia: Progres dan Perspektif, Rabu (6/5/2026).

Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia mencatatkan produksi nikel mencapai 2,3 juta ton dan mengukuhkan posisi sebagai produsen terbesar di dunia. Namun, sekitar 80 persen dari total produksi tersebut diekspor dalam bentuk produk setengah jadi seperti nickel pig iron (NPI), ferronickel (FeNi), serta mixed hydroxide precipitate (MHP).

Zuhdi menjelaskan bahwa perubahan teknologi baterai global menjadi faktor penentu utama yang memengaruhi permintaan nikel di masa depan. Produsen kini mulai mempertimbangkan efisiensi biaya dan preferensi konsumen yang dinamis terhadap material bahan baku.

“Ketika mencantumkan nikel ke baterai, kita menghilangkan aspek dasar technological change. Konsumen tidak peduli baterai diproduksi dari material apa, mereka hanya mau baterai yang paling efisien dan paling murah,” tutur Zuhdi.

Tren pasar saat ini menunjukkan pergeseran ke arah baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak menggunakan nikel, berbeda dengan teknologi NMC atau NCA. Keunggulan biaya produksi yang lebih terjangkau dan kemudahan proses daur ulang menjadikan LFP lebih diminati oleh banyak produsen otomotif global.

Munculnya alternatif teknologi lain seperti baterai sodium-ion dan baterai solid-state dipandang akan membuat peta persaingan material baterai menjadi semakin kompetitif. Ahmad Zuhdi menekankan pentingnya fleksibilitas industri nasional dalam menghadapi perubahan tren bahan baku tersebut.

“The core fundamental thinking yang harus diterapkan adalah bangun industrinya. Apa pun material dan komoditasnya, ketika industri itu terbangun, kita akan lebih fleksibel untuk switching the raw material,” ujar Zuhdi.

Langkah hilirisasi nikel disarankan untuk tetap berjalan dengan orientasi pada pembangunan basis industri yang kuat. Fokus tersebut bertujuan agar sektor manufaktur dalam negeri dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan teknologi baterai di masa mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi