Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa koordinasi antarotoritas ekonomi pemerintah terus diintensifkan di Kompleks Parlemen, Senayan, Sabtu (6/6), guna merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.
Langkah ini diambil setelah publik mempertanyakan pola komunikasi pemerintah karena mata uang domestik semakin terpuruk. Data Bloomberg pada Jumat (5/5) menunjukkan kurs USD/IDR bertengger di posisi Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat, yang memicu sorotan media internasional sebagai salah satu penurunan terdalam di Asia.
“Kita rapatnya intens, pertemuan antara pelaku-pelaku otoritas ekonomi itu intens,” kata Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.
Prasetyo Hadi menyatakan bahwa hasil dari koordinasi tersebut tidak dapat langsung diukur dalam jangka pendek karena pergerakan kurs dipengaruhi oleh banyak variabel makro. Pihaknya menggarisbawahi bahwa persoalan ini memerlukan bauran kebijakan lintas otoritas.
“Ya, kan, ya, bukan berarti kalau kemudian komunikasi intens terus belum menghasilkan seperti yang kita harapkan, kemudian kita tidak ada komunikasi, kan, enggak begitu juga,” ujar Prasetyo Hadi.
Menurut penjelasan Prasetyo Hadi, fluktuasi nilai tukar ini sangat berkaitan dengan kondisi fundamental ekonomi dalam negeri serta tingkat ketergantungan pada sektor impor.
“Ini, kan, semua bagian dari upaya, upaya dengan naiknya nilai tukar rupiah itu, kan, tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor,” kata Prasetyo Hadi.
Pemerintah menilai bahwa kekuatan mata uang nasional dalam jangka panjang akan sangat bergantung pada tingkat kemandirian ekonomi domestik.
“Faktor variabelnya juga banyak. Maksudnya yang tadi saya sampaikan tadi itu juga bagian dari yang mempengaruhi juga. Kemandirian kita secara ekonomi itu juga mempengaruhi kekuatan mata uang kita,” lanjut Prasetyo Hadi.
Ketergantungan sejumlah sektor industri terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri diakui menjadi tantangan berat yang menekan stabilitas moneter saat ini.
“Ada beberapa yang masih ketergantungan impor, itu juga akan mempengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri begitu. Nah, sehingga yang dibutuhkan sekarang tentu kerja sama,” imbuh Prasetyo Hadi.
Dilansir dari money.kompas.com, tekanan eksternal dipicu oleh tingginya suku bunga Amerika Serikat yang menarik kapital ke aset dolar, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendongkrak harga energi. Ketika sentimen global tersebut bertemu dengan keraguan pasar terhadap faktor domestik, kondisi crisis of confidence atau krisis kepercayaan dapat memperburuk keadaan.
Bank Indonesia kini menghadapi tantangan menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar tanpa mengorbankan pertumbuhan sektor riil akibat suku bunga yang terlalu tinggi. Pemerintah dituntut hadir sebagai jangkar kepercayaan dengan menjaga kualitas belanja negara, mengendalikan defisit anggaran, serta memastikan devisa hasil ekspor komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit menetap di dalam sistem keuangan domestik.