Raksasa industri baja PT Krakatau Osaka Steel (KOS) dijadwalkan menghentikan seluruh operasional bisnisnya di Indonesia mulai Juni 2026 mendatang. Keputusan penutupan total ini diambil perusahaan patungan Jepang-Indonesia tersebut setelah mengalami kerugian operasional secara terus-menerus sejak tahun 2022.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengonfirmasi bahwa berakhirnya aktivitas manufaktur ini dipicu oleh tekanan pasar global dan kondisi domestik yang tidak kondusif. Dilansir dari Suara, derasnya arus impor baja murah asal Tiongkok menjadi faktor utama yang merusak daya saing produk lokal di pasar nasional.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menyatakan keprihatinan pemerintah terhadap nasib para tenaga kerja yang akan kehilangan pekerjaan akibat penutupan pabrik tersebut. Pemerintah menekankan agar manajemen perusahaan tetap mengedepankan tanggung jawab terhadap hak-hak karyawan.
"Kami turut prihatin atas kondisi yang dihadapi para pekerja PT Krakatau Osaka Steel. Oleh sebab itu, kami mengimbau kepada perusahaan untuk memenuhi hak-hak pekerja yang terdampak," ujar Febri, Juru Bicara Kemenperin.
Penurunan kinerja perusahaan juga dipengaruhi oleh lesunya sektor konstruksi dalam negeri yang mengakibatkan terjadinya penumpukan stok barang. Meskipun pemerintah telah menerapkan kebijakan SNI wajib dan larangan terbatas, instrumen tersebut dinilai belum cukup kuat menahan ekspansi baja impor bersubsidi.
Kemenperin mengakui adanya fenomena kelebihan pasokan baja global yang memperberat posisi industri strategis nasional. Sebagai langkah lanjutan, otoritas terkait berencana mengevaluasi regulasi yang ada guna mencegah kejadian serupa terulang pada perusahaan baja lainnya.
"Kami akan melakukan kajian secara komprehensif guna merumuskan strategi yang lebih efektif," pungkas Febri, Juru Bicara Kemenperin.
Rencana kajian komprehensif tersebut baru akan dilakukan setelah kepastian tutupnya pabrik KOS yang mengancam mata pencaharian ratusan pekerja. Saat ini beban operasional yang tinggi dan harga jual yang tidak kompetitif menjadi alasan utama perusahaan tidak lagi melanjutkan produksinya.