Krakatau Osaka Steel Tutup Operasional dan PHK 200 Karyawan

Krakatau Osaka Steel Tutup Operasional dan PHK 200 Karyawan

PT Krakatau Osaka Steel (KOS) secara resmi mengumumkan penutupan operasional di Indonesia dan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 200 karyawan pada Juni 2026 mendatang. Keputusan ini dipicu oleh krisis struktural akibat banjir impor produk baja murah dari China yang merusak produktivitas domestik, sebagaimana dilansir dari Suara pada Kamis (7/5/2026).

Krisis yang dialami produsen baja nasional tersebut dinilai sebagai alarm deindustrialisasi yang memerlukan langkah proteksi perdagangan segera dari pemerintah. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, memberikan peringatan keras mengenai potensi jatuhnya lebih banyak pelaku industri jika regulasi tidak diperketat.

“Kalau tidak ya tinggal tunggu giliran perusahaan baja apa lagi yang akan tutup,” kata Bhima kepada Suara.com, Kamis (7/5/2026).

Bhima menuturkan bahwa penutupan KOS menambah daftar panjang kegagalan industri lokal bersaing dengan baja impor setelah sebelumnya Metal Steel Group milik Ispat Indo di Surabaya juga berhenti beroperasi pada Oktober 2025.

“Sebetulnya ini sangat disayangkan ya di tengah kondisi ekonomi global dan domestik yang sedang mengalami penurunan trend akibat perang terutama di sektor baja. Krakatau Osaka Steel (KOS) ini sebetulnya korban kedua, sebelumnya di Oktober 2025 pabrik Metal Steel Group milik Ispat Indo yang beroperasi di Surabaya juga tutup,” kata Bhima.

Kondisi ini disebut sebagai bentuk krisis struktural yang mendalam bagi industri baja dalam negeri yang terus tertekan oleh harga pasar yang tidak kompetitif.

“Jadi sebenarnya ini krisis struktural industri baja domestik akibat banjir impor baja murah asal China,” ujarnya.

Pemerintah didesak untuk memperhatikan kapasitas produksi China yang mencapai 1 miliar ton per tahun, di mana limpahan ekspor kecil saja dapat menghancurkan pasar Indonesia.

“Produksi baja China dalam setahun itu sekitar 1 miliar ton. Bayangkan 2 persen saja di ekspor ke Indonesia, jumlahnya sudah melampaui kapasitas produksi Indonesia,” katanya.

Ketimpangan harga menjadi faktor utama yang membuat produsen lokal sulit bertahan dalam persaingan pasar yang tidak sehat ini.

“Nah, ini kan persaingan yang tidak fair mengingat harga baja China yang lebih murah,” ujarnya.

Penurunan utilisasi industri baja nasional yang kini hanya menyentuh angka 52 persen menjadi bukti nyata melemahnya sektor ini dibandingkan tingkat ideal keberlanjutan bisnis sebesar 80 persen.

“Temuan KADI soal bukti dumping baja China dengan kisaran harga 5,9 - 55,6% lebih murah, seharusnya sudah sangat cukup menjadi trigger untuk segera melakukan reformasi regulasi agar bea masuk anti-dumping dapat cepat dikenakan,” kata Bhima.

Artikel terkait

Rekomendasi