Kredit Menganggur Perbankan April 2026 Menumpuk Rp 2.551 Triliun

Kredit Menganggur Perbankan April 2026 Menumpuk Rp 2.551 Triliun

Fasilitas kredit yang belum ditarik oleh debitur atau undisbursed loan di perbankan nasional mengalami penumpukan secara signifikan. Dunia usaha saat ini terlihat masih menahan rencana ekspansi mereka meskipun kapasitas pembiayaan yang disediakan perbankan sangat melimpah.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) yang dikutip dari Keuangan, jumlah komitmen pinjaman yang belum dicairkan tersebut menembus angka Rp 2.551,42 triliun pada April 2026. Jumlah fantastis ini setara dengan 22,57% dari total keseluruhan kredit perbankan yang tersedia.

Pada periode yang sama, penyaluran kredit dari perbankan sebenarnya memperlihatkan tren positif. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan penyaluran kredit pada April 2026 mampu tumbuh sebesar 9,98% secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Ekonom Center of Reform (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa tren kenaikan komitmen kredit yang belum ditarik ini sejatinya sudah mulai terdeteksi sejak awal tahun 2026. Namun, lonjakan yang terjadi pada April 2026 dianggap memiliki pola yang tidak biasa.

"Artinya, bank tetap aktif memberikan komitmen pembiayaan dan plafon kredit baru terus terbentuk. Namun, pencairannya belum berjalan secepat pertumbuhan komitmen tersebut," kata Yusuf saat dihubungi, Minggu (7/6/2026).

Faktor utama di balik fenomena ini adalah langkah para pelaku usaha yang memilih untuk menunda investasi baru. Langkah menahan ekspansi ini diperkirakan bakal terus berlanjut hingga situasi perekonomian domestik memperlihatkan pemulihan yang jauh lebih sehat.

Yusuf memproyeksikan tumpukan kredit menganggur berpotensi terus membesar hingga penghujung tahun karena likuiditas dan kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan masih sangat tinggi. Jika kecepatan penarikan dana oleh debitur tidak mampu mengimbangi laju persetujuan kredit, maka angka undisbursed loan dipastikan melonjak.

"Persoalannya adalah apakah sektor riil cukup percaya diri untuk segera menarik fasilitas yang sudah tersedia tersebut," ucapnya.

Indikator efektivitas transmisi kredit dapat diukur dari rasio komitmen menganggur terhadap total plafon. Yusuf menilai rasio yang saat ini mandek di kisaran 22% hingga 23% menjadi sinyal kuat bahwa fungsi intermediasi perbankan belum berjalan secara optimal.

Kondisi ini tecermin jelas pada laporan keuangan sejumlah bank raksasa tanah air. PT Bank Mandiri Tbk membukukan jumlah undisbursed loan senilai Rp 312,9 triliun, atau mengalami lonjakan sebesar 18,68% yoy.

Kenaikan signifikan juga dialami oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk. Komitmen pinjaman yang belum ditarik di bank pelat merah ini melonjak hingga 35,28% yoy menjadi Rp 73,14 triliun.

Sektor swasta tidak luput dari tren serupa, di mana PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengantongi komitmen kredit menganggur sebesar Rp 467,27 triliun pada April 2026, yang berarti naik 12,67% yoy.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn, mengonfirmasi bahwa pergerakan angka kredit maupun komitmen menganggur sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi. Walau angka pembiayaan menganggur naik, penyaluran kredit riil BCA tetap tumbuh 4,54% yoy menjadi Rp 965,01 triliun hingga April 2026.

"Pada saat yang bersamaan, BCA mengelola dengan baik undisbursed loan secara pruden," kata Hera.

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatatkan pertumbuhan tipis pada pos undisbursed loan sebesar 0,24% yoy menjadi Rp 110,74 triliun per April 2026.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa rendahnya permintaan dari nasabah menjadi tantangan paling berat bagi industri perbankan sepanjang tahun ini.

"Hampir semua segmen kredit saat ini cenderung untuk menunda investasi lebih lanjut," kata Lani.

Artikel terkait

Rekomendasi