Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif terhadap sejumlah mata uang utama global pada perdagangan pagi hari. Mata uang Indonesia berhasil bangkit meskipun Indeks Dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY terpantau sedang mengalami penguatan.
Berdasarkan data pasar Investing pada Senin, 1 Juni 2026 pukul 09.03 WIB, Indeks Dolar AS berada di posisi 99,022 atau mengalami kenaikan sebesar 0,17 persen. Lonjakan ini merefleksikan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama di tingkat global.
Meski mendapatkan tekanan global, nilai tukar rupiah justru mampu menekan dolar AS. Seperti dilansir dari Medcom, mata uang Negeri Paman Sam tersebut tercatat melemah sebesar 0,08 persen ke level Rp17.851.
Apresiasi nilai tukar rupiah juga terjadi terhadap beberapa mata uang negara mitra dagang utama lainnya. Rupiah berhasil menekan yuan China yang terkoreksi 0,13 persen ke posisi Rp2.637,69, sementara ringgit Malaysia ikut melemah 0,13 persen menjadi Rp4.500,88.
Tren positif mata uang garuda berlanjut terhadap dolar Singapura dan yen Jepang. Dolar Singapura mengalami penurunan sebesar 0,21 persen menjadi Rp13.968,27, sedangkan mata uang yen Jepang terkontraksi sebesar 0,25 persen ke level Rp111,92.
Rupiah juga mencatatkan keunggulan terhadap baht Thailand yang mengalami penurunan sebesar 0,31 persen ke posisi Rp548,07. Penguatan paling signifikan dibukukan rupiah terhadap euro, di mana mata uang kawasan Eropa tersebut merosot hingga 0,61 persen ke level Rp20.710 per euro.
Pergerakan berlawanan arah terjadi di pasar komoditas, di mana harga emas dunia bergerak melemah. Instrumen XAU/USD terpantau mengalami penurunan sebesar 0,31 persen menuju level 4.525,31.
Secara keseluruhan, situasi pergerakan ini mengindikasikan bahwa nilai tukar rupiah berhasil memperoleh sentimen positif pada pembukaan perdagangan awal pekan, meskipun dolar AS secara simultan tengah mendominasi pasar global.