Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan berat di sepanjang pekan ini. Mata uang Garuda tercatat bergerak pada kisaran level terlemahnya sepanjang sejarah akibat kombinasi sentimen global dan kondisi domestik.
Dikutip dari Investasi, data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot berada di posisi Rp 17.414 per dolar AS pada Senin (11/5). Tekanan ini terus berlanjut hingga mata uang domestik menyentuh angka Rp 17.528 per dolar AS pada Selasa (12/5).
Meskipun sempat menguat tipis ke level Rp 17.476 per dolar AS pada perdagangan Rabu (13/5), tren positif tersebut tidak bertahan lama. Rupiah kembali terdepresiasi ke posisi Rp 17.529 pada Kamis (14/5) sebelum akhirnya ditutup di level Rp 17.597 per dolar AS pada Jumat (15/5).
Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga mencatat tren pelemahan yang serupa. Pada awal pekan, Senin (11/5), kurs rupiah berada di level Rp 17.415 per dolar AS.
Satu hari berselang, rupiah sempat mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada posisi Rp 17.514 per dolar AS. Namun, nilai tukar sempat mengalami penguatan tipis menjadi Rp 17.496 per dolar AS pada pertengahan pekan, tepatnya Rabu (13/5).
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menjelaskan bahwa pergerakan mata uang Garuda saat ini sangat dipengaruhi oleh gabungan faktor eksternal dan internal.
"Dari sisi global, tekanan terbesar datang dari kenaikan inflasi Amerika Serikat, harga minyak yang masih tinggi akibat konflik Timur Tengah, serta imbal hasil obligasi Amerika yang bertahan tinggi," ujar Josua kepada Investasi pada Rabu (13/5).
Dampak Kenaikan Inflasi dan Harga Energi
Kenaikan inflasi konsumen di Amerika Serikat yang kini menyentuh 3,8% secara tahunan menjadi faktor utama penguatan dolar AS. Kondisi ini menekan mata uang Asia, khususnya negara yang sensitif terhadap harga minyak seperti Indonesia, India, dan Filipina.
Indonesia yang masih bergantung pada impor energi menjadikan lonjakan harga minyak sebagai sentimen negatif bagi rupiah. Pasar memproyeksikan kenaikan biaya energi dapat memperlebar risiko inflasi, defisit fiskal, hingga peningkatan kebutuhan terhadap dolar AS.
Dari sektor domestik, peninjauan indeks MSCI turut memperburuk kondisi pasar keuangan nasional. MSCI mengumumkan tidak ada saham baru dari Indonesia yang masuk ke indeks standar, sementara enam saham justru dikeluarkan.
Sentimen Pasar Saham dan Obligasi
Keputusan MSCI tersebut memicu investor global untuk melakukan penyesuaian portofolio, yang pada akhirnya menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ketika investor asing menjual saham, mereka mengonversi dana tersebut ke dolar AS sehingga menekan valuta asing.
"MSCI bukan penyebab tunggal pelemahan rupiah, tetapi menjadi pemicu domestik yang memperburuk tekanan ketika pasar global sedang tidak ramah," kata Josua.
Selain bursa saham, pasar obligasi juga menunjukkan kelesuan. Lelang Surat Berharga Negara (SBN) terbaru mencatat permintaan terlemah dalam setahun terakhir dengan rasio penawaran terhadap target hanya sebesar 1,43 kali.
"Jika pasar obligasi melemah, investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi dan tekanan tersebut dapat memperbesar persepsi risiko Indonesia," ujar Josua.
Kendati demikian, munculnya sentimen positif dari rencana pertemuan bilateral antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sempat memberi ruang stabilisasi. Wacana aktivasi Bond Stabilization Fund diharapkan dapat menjaga keseimbangan pasar obligasi nasional di tengah sensitivitas sentimen harian.