Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000. Dikutip dari Info, penurunan mata uang domestik ini terjadi bersamaan dengan tekanan tajam yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pergerakan nilai tukar rupiah pada Kamis, 4 Juni 2026, berada di kisaran Rp17.970 per dolar AS. Posisi tersebut memperpanjang tren koreksi mata uang Indonesia yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Pada awal Mei 2026, kurs dolar AS sebenarnya masih berada di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400. Namun, penguatan mata uang AS berlangsung secara konsisten hingga mendekati batas psikologis baru memasuki awal Juni.
Tekanan di pasar valuta asing berdampak langsung pada pasar saham domestik, di mana IHSG mencatat penurunan signifikan pada perdagangan terbaru. Kombinasi pelemahan ini memicu kehati-hatian para pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi.
Bagi pelaku usaha, angka Rp18.000 menjadi indikator penting yang dapat memengaruhi arus modal dan sentimen investor. Dalam sejumlah sesi perdagangan, dolar AS bahkan dilaporkan sempat menembus level tersebut.
Faktor Pemicu dan Dampak bagi Sektor Usaha
Terdapat beberapa faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah, mulai dari penguatan global dolar AS hingga ketidakpastian ekonomi dunia. Selain itu, arus modal asing keluar dari negara berkembang turut memperparah kondisi pasar keuangan.
Koreksi ini membawa dampak ganda bagi dunia usaha di dalam negeri. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya operasional yang cukup signifikan.
Sebaliknya, sektor ekspor berpeluang mendapatkan keuntungan karena produk lokal menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Saat ini, pelaku pasar masih menantikan langkah stabilisasi dari pemerintah dan Bank Indonesia.