Mata uang rupiah pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan terbaru. Dilansir dari Investasi, mata uang Garuda menguat sebesar Rp 20 atau sekitar 0,11 persen.
Kenaikan ini membawa rupiah Jisdor ke posisi Rp 17.863 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya yang berlangsung 29 Mei 2026, mata uang domestik berada di level Rp 17.883 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pergerakan mata uang domestik sempat berbalik arah. Rupiah memangkas sebagian pelemahan yang terjadi di awal sesi perdagangan.
Pembalikan arah tersebut terjadi setelah para pelaku pasar mencermati rilis data performa neraca perdagangan Indonesia untuk periode April 2026. Data makroekonomi ini menjadi perhatian investor.
Badan Pusat Statistik atau BPS melaporkan bahwa neraca perdagangan nasional pada April 2026 mengantongi surplus sebesar US$ 89,1 juta. Jumlah ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Sebagai perbandingan, capaian surplus pada periode Maret 2026 sebelumnya mampu menyentuh angka US$ 3,32 miar. Meskipun menyusut, hasil ini memperpanjang catatan positif ekspor-impor Indonesia.
Hingga saat ini, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Catatan mengesankan tersebut dimulai sejak bulan Mei 2020 lalu.
Secara rinci, performa ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai nilai US$ 25,30 miliar. Di sisi lain, nilai impor nasional tercatat berada pada angka US$ 25,21 miliar.
Kombinasi angka ekspor dan impor tersebut membuat jarak selisih di antara keduanya semakin merapat. Kondisi ini berbeda dari struktur perdagangan pada bulan sebelumnya.
Lukman Leong menilai bahwa lonjakan nilai ekspor dan impor merefleksikan aktivitas ekonomi riil yang masih bergerak kuat. Hal inilah yang menjadi faktor penopang bagi pergerakan mata uang garuda.
"Namun lonjakan pada ekspor dan impor, secara umum angka-angka yang kuat dan mendukung rupiah," terang Lukman kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).
Meski menguat, laju apresiasi mata uang domestik masih tertahan oleh proyeksi kebijakan moneter. Pasar memperkirakan adanya potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia atau BI.
Ekspektasi kenaikan suku bunga ini muncul setelah inflasi pada Mei 2026 melonjak 0,28 persen secara bulanan atau mtm. Secara tahunan, inflasi berada di angka 3,08 persen.
Tingginya angka inflasi ini berdampak langsung pada pasar obligasi. Minat para investor terhadap Surat Berharga Negara atau SBN dilaporkan mengalami penurunan.
Faktor eksternal dari pergerakan indeks dolar AS turut memberi tekanan. Lukman Leong menyebut indeks dolar AS sempat menguat tajam pada malam sebelumnya dan menekan rupiah di awal sesi.
Untuk perdagangan hari Rabu (3/6), pergerakan mata uang garuda diperkirakan masih didominasi oleh sentimen global. Salah satu fokus utama pasar adalah dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Faktor global menjadi penentu karena tidak adanya perilisan data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri. Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS.