Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus melanjutkan tren pelemahannya hingga melewati level psikologis baru. Seperti dilansir dari Suara, mata uang domestik ini langsung dibuka merosot pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026.
Berdasarkan data kompilasi Bloomberg pada Senin (8/6/2026) pagi, rupiah melemah 90 poin atau jatuh sekitar 0,50 persen. Penurunan ini menempatkan rupiah di posisi Rp18.126 per dolar AS, setelah pada penutupan akhir pekan lalu tertahan di level Rp18.036 per dolar AS.
Depresiasi yang terjadi memaksa rupiah kembali berada di zona merah. Kondisi ini berjalan beriringan dengan indeks dolar AS yang terpantau sedang mengalami penguatan secara global.
Di tengah gejolak mata uang tersebut, Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa nasional per akhir Mei 2026 yang berada di angka 144,9 miliar dolar AS. Jumlah tersebut menunjukkan penurunan sebesar 1,3 miliar dolar AS dari posisi akhir April 2026 yang sempat mencapai 146,2 miliar dolar AS.
Otoritas moneter menerangkan bahwa penyusutan cadangan devisa tersebut terjadi akibat pengeluaran rutin negara. Dana tersebut digunakan untuk pemenuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Pelemahan nilai tukar rupiah langsung memicu efek domino yang menekan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka ambles signifikan dengan pangkasan 108,46 poin atau anjlok 1,94 persen ke level 5.486,31.
Koreksi tajam juga melanda kelompok saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45. Indeks tersebut terseret turun sebesar 12,06 poin atau melemah 2,16 persen menuju posisi 545,69, yang mengindikasikan adanya aksi lepas portofolio secara massal oleh para pengelola dana.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kejatuhan ganda pada mata uang dan pasar saham ini didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal. Ketersediaan data ekonomi makro AS yang solid memicu kembalinya arus modal ke aset berbasis dolar AS.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan dan sentimen domestik menekan rupiah," kata Lukman.
Lukman menjelaskan lebih lanjut bahwa keperkasaan dolar AS di pasar global turut disokong oleh meningkatnya tensi geopolitik militer di Timur Tengah. Situasi konflik yang memanas membuat pelaku pasar global berbondong-bondong mengamankan modal mereka ke instrumen safe haven seperti dolar AS dan emas.
Dampak pengalihan dana global ini memicu tekanan instan pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Hingga penutupan pasar sore nanti, rupiah diproyeksikan masih berpotensi bergerak fluktuatif di zona pelemahan pada kisaran rentang harga Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.