Rupiah Melemah ke Rp17.414 per Dolar AS pada 11 Mei 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.414 per Dolar AS pada 11 Mei 2026

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,18 persen atau terkoreksi 32 poin pada penutupan perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Mata uang Indonesia kini berada di posisi Rp17.414 per dolar AS setelah terus tertekan sejak pembukaan pasar.

Kondisi ini selaras dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang menempatkan rupiah di level Rp17.415 per dolar AS. Seperti dikutip dari Suara, tren negatif ini tidak hanya dialami oleh Garuda, melainkan mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Data pasar menunjukkan Peso Filipina memimpin pelemahan di regional dengan kontraksi 0,84 persen. Diikuti oleh Rupee India yang turun 0,80 persen dan Baht Thailand yang melemah sebesar 0,78 persen terhadap dolar AS.

Penguatan indeks dolar AS ke level 97,99 menjadi faktor utama yang menekan mata uang global lainnya. Lukman Leong selaku Analis Doo Financial Futures mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik menjadi pemicu sentimen negatif ini.

"Kondisi ini memicu kenaikan harga minyak mentah dunia kembali ke level $100 per barel, yang secara otomatis menekan mata uang negara-negara di kawasan regional," ujar Lukman.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang urung mereda berdampak langsung pada lonjakan komoditas energi. Hal ini menciptakan efek domino yang membebani nilai tukar negara-negara pengimpor minyak di Asia, termasuk Indonesia.

Sentimen Domestik dan Penantian Data Inflasi

Selain faktor luar negeri, tekanan juga datang dari dalam negeri melalui aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di pasar saham. Aktivitas ini secara simultan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan memperberat posisi rupiah.

Pelaku pasar saat ini memilih sikap waspada atau wait and see untuk mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat terbaru. Fokus investor juga tertuju pada rencana pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung Kamis mendatang.

Hasil dari dialog dua pemimpin negara besar tersebut diprediksi akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Pasar berharap adanya kepastian yang dapat meredam gejolak di pasar keuangan global.

Artikel terkait

Rekomendasi