Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan pekan ini. Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda terkoreksi ke posisi Rp17.382 per dolar AS pada penutupan Jumat, 8 Mei 2026.
Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 49 poin atau setara 0,28 persen dari penutupan hari sebelumnya. Seperti dikutip dari Suara, posisi rupiah pada perdagangan Kamis sebelumnya masih bertahan di level Rp17.333.
Kondisi pelemahan ini juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Kurs Jisdor pada 8 Mei 2026 ditetapkan berada di level Rp17.375 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pergerakan negatif rupiah dipicu oleh dua faktor eksternal dan internal yang signifikan. Situasi keamanan di Timur Tengah menjadi pemicu utama kekhawatiran pasar.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS oleh kekuatiran terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah setelah terjadi insiden baku tembak antara kapal AS dan Iran," kata Lukman saat dihubungi Suara.
Selain faktor keamanan global, sentimen negatif juga datang dari dalam negeri terkait data moneter terbaru. Investor menyoroti penurunan posisi Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia yang berdampak pada kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional.
"Data yang menunjukkan cadev Indonesia kembali turun juga ikut menekan rupiah. Posisi rupiah kedepan akan tergantung pada respon Iran terhadap proposal damai AS yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat ini," ujar Lukman.
Perbandingan Performa Mata Wang Asia
Tren pelemahan rupiah ini sejalan dengan kondisi mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga tertekan oleh penguatan indeks dolar AS. Indeks dolar tercatat naik ke level 98,23 dari posisi sebelumnya di 98,06.
Won Korea menjadi mata uang dengan koreksi terdalam sebesar 0,84 persen, disusul oleh ringgit Malaysia yang merosot 0,36 persen. Rupee India juga terpantau melemah 0,32 persen pada penutupan perdagangan hari ini.
| Mata Uang | Perubahan (%) | Status |
|---|---|---|
| Won Korea | 0,84 | Melemah |
| Ringgit Malaysia | 0,36 | Melemah |
| Rupee India | 0,32 | Melemah |
| Rupiah Indonesia | 0,28 | Melemah |
| Peso Filipina | 0,08 | Melemah |
| Yuan China | 0,04 | Melemah |
| Yen Jepang | 0,02 | Menguat |
| Dolar Hong Kong | 0,06 | Menguat |
| Dolar Taiwan | 0,07 | Menguat |
| Baht Thailand | 0,09 | Menguat |
Meskipun mayoritas melemah, beberapa mata uang di Asia masih mampu mencatatkan penguatan tipis. Baht Thailand memimpin penguatan sebesar 0,09 persen, diikuti dolar Taiwan yang naik 0,07 persen terhadap dolar AS.