Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.517 Per Dolar AS pada 15 Mei 2026

Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.517 Per Dolar AS pada 15 Mei 2026

Nilai tukar rupiah mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan siang. Melemahnya mata uang garuda ini dipicu oleh melonjaknya permintaan terhadap greenback di pasar global.

Berdasarkan data ekonomi yang dikutip dari Medcom via Investing pada pukul 12.15 WIB, mata uang rupiah terkoreksi sebesar 71,9 poin atau sekitar 0,41 persen. Pergerakan tersebut menempatkan rupiah berada di posisi Rp17.517,9 per dolar AS.

Kondisi pasar saat ini cenderung beralih pada mode risk-off, yang memicu para investor untuk mengamankan aset mereka ke dalam bentuk dolar AS. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian yang melanda pasar keuangan global.

Depresiasi nilai tukar tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga menekan sejumlah mata uang di kawasan Asia lainnya yang turut bergerak turun menghadapi dolar AS.

Mata uang yuan China tercatat berada pada level Rp2.581,22 setelah mengalami kenaikan sekitar 0,18 persen. Sementara itu, ringgit Malaysia bergerak ke posisi Rp4.458,63 per ringgit, dan yen Jepang menguat 0,11 persen menuju level Rp110,94.

Di sisi lain, baht Thailand juga terpantau mengalami penguatan tipis ke angka Rp541,513. Berbeda dengan volatilitas mata uang Asia, mata uang euro cenderung bergerak stabil pada kisaran Rp20.486 tanpa memperlihatkan perubahan yang signifikan.

Indeks DXY dan Lonjakan Inflasi Produsen AS

Indeks dolar AS (DXY) sebenarnya menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,03 persen ke posisi 98,397, sedangkan komoditas emas dunia XAU/USD justru menguat 0,22 persen ke level USD4.699. Namun, pelemahan indeks ini belum mampu menyokong penguatan mata uang emerging market termasuk rupiah yang masih dibayangi oleh arus modal keluar.

Faktor fundamental yang ikut memperberat posisi rupiah berasal dari rilis data inflasi produsen di Amerika Serikat. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Produsen (PPI) utama untuk bulan April melonjak 1,4 persen secara bulanan (mtm), yang menjadi kenaikan paling tinggi sejak Maret 2022.

Secara tahunan (yoy), PPI AS meroket hingga 6 persen, mencatatkan angka tertinggi sejak Desember 2022. Realisasi data ekonomi ini berada di atas ekspektasi konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan di level 0,5 persen mtm dan 4,9 persen yoy.

Dampak Konflik Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Kenaikan biaya produksi di sektor industri global ini dipicu oleh persistennya tekanan inflasi dari sektor energi akibat konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah. Situasi tersebut membuat pelaku pasar memproyeksikan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan mereka dalam waktu dekat.

Ekspektasi mundurnya pelonggaran kebijakan moneter ini dikonfirmasi oleh indikator CME FedWatch yang memperlihatkan sikap hati-hati para pelaku pasar keuangan. Sentimen kehati-hatian investor juga dipengaruhi oleh pengamatan terhadap dinamika geopolitik hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan China menjelang pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping.

Artikel terkait

Rekomendasi