Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.699 per Dolar AS Beserta Mata Uang Regional

Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.699 per Dolar AS Beserta Mata Uang Regional

Kondisi menekan kembali dialami nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada transaksi perdagangan pagi hari. Berdasarkan data watchlist pasar uang Investing, mata uang Indonesia tersebut terkoreksi sekitar 0,20 persen.

Pelemahan ini membuat rupiah berada pada posisi Rp17.699 per dolar AS, seperti dilansir dari Medcom. Gejala penurunan nilai tukar tersebut berjalan selaras dengan pergerakan beberapa mata uang regional yang justru menguat atas rupiah.

Dolar Singapura terpantau merangkak naik 0,21 persen menuju level Rp13.854. Mengikuti tren serupa, yen Jepang menanjak 0,17 persen ke posisi Rp111,34, sedangkan mata uang euro justru sedikit melemah sebesar 0,05 persen ke area Rp20.522.

Di tengah situasi pasar global yang diliputi ketidakpastian, komoditas emas dunia atau XAU/USD mengalami penguatan sebesar 1,16 persen. Kondisi penguatan dolar AS ini tetap bergulir meski Indeks Dolar AS (DXY) sebenarnya menunjukkan penurunan ke level 98,957.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa tekanan yang dialami rupiah tidak semata-mata dipicu oleh faktor global. Pasar keuangan dalam negeri ikut memengaruhi akibat adanya sentimen domestik serta tingginya permintaan terhadap dolar AS.

Rupiah didapati bergerak pada zona terlemah sepanjang sejarah dalam beberapa pekan belakangan. Berdasarkan data pasar, pasangan mata uang USD/IDR sempat bergerak mendekati level Rp17.700 per dolar AS karena pemodal asing memburu aset safe haven.

Langkah Antisipasi Bank Indonesia dan Pemerintah

Menanggapi gempuran terhadap mata uang domestik, Bank Indonesia sebelumnya sudah mengambil tindakan berupa pengerekan suku bunga acuan. Suku bunga dinaikkan sebesar 50 basis poin hingga menyentuh angka 5,25 persen.

Kebijakan moneter tersebut diambil dengan tujuan mengamankan stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, langkah ini diproyeksikan mampu meredam risiko inflasi yang berpotensi muncul akibat merosotnya nilai mata uang nasional.

Selain arah kebijakan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik, pasar sedang menyoroti kondisi fiskal nasional. Arus modal asing yang mengalir keluar dari pasar saham serta obligasi domestik turut memicu lonjakan permintaan dolar AS.

Sisi pemerintah kini mulai merancang serangkaian strategi demi menjaga ketahanan rupiah. Langkah nyata ditempuh lewat perilisan regulasi baru yang memuat kewajiban bagi para eksportir sektor sumber daya alam.

Para pengusaha tersebut diwajibkan menyimpan devisa hasil ekspor mereka ke dalam sistem perbankan nasional. Ketentuan ini diharapkan dapat mendongkrak sekaligus memperkuat ketersediaan pasokan valuta asing di dalam negeri.

Para pelaku pasar saat ini masih menanti keputusan lanjutan dari Bank Indonesia beserta kepastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Rupiah diprediksi tetap bergerak fluktuatif dalam jangka pendek pada batas psikologis Rp17.700 per dolar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi