Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat pagi, 29 Mei 2026. Berdasarkan data dari Bloomberg, mata uang Garuda dibuka naik 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.814 per dolar AS.
Dikutip dari Suara, posisi ini bergerak positif dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.846 per dolar AS. Kenaikan ini menjadi angin segar setelah posisi Rupiah sempat tertekan sentimen kebijakan suku bunga dari bank sentral AS.
Pelemahan indeks dolar AS (DXY) akibat melandainya inflasi di negara tersebut menjadi pemicu utama kenaikan nilai tukar Rupiah. Kondisi ini turut memberikan ruang bagi mayoritas mata uang di kawasan Asia untuk ikut mengalami penguatan.
Beberapa mata uang regional juga terpantau bergerak positif terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat seiring masuknya modal asing ke pasar ekuitas Seoul, sementara baht Thailand tangguh berkat stabilitas sektor pariwisata pada kuartal kedua 2026.
Ringgit Malaysia turut mengalami apresiasi yang ditopang oleh stabilnya harga komoditas energi global. Di sisi lain, yen Jepang mencatatkan penguatan teknis melawan dolar AS meskipun masih dibayangi kebijakan moneter longgar.
Analis pasar uang memaparkan beberapa faktor fundamental dan teknikal yang memicu kembalinya kepercayaan investor terhadap mata uang lokal pada 29 Mei 2026. Melandainya rilis data inflasi AS terbaru memicu ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed.
Situasi tersebut membuat investor cenderung melepas dolar AS. Selain itu, aliran modal asing (capital inflow) yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) turut memberikan sokongan likuiditas bagi mata uang lokal.
Stabilitas nilai tukar ini didukung pula oleh langkah intervensi proaktif dari Bank Indonesia (BI). Langkah BI di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) terbukti efektif dalam meredam volatilitas pasar.